HIV dalam Kehamilan

Discussion in 'Forum Kesehatan' started by goesdun, 22 Jun 2009.

  1. goesdun

    goesdun IndoForum Mod In Training Staff Member

    No. Urut:
    32661
    Joined:
    7 Feb 2008
    Messages:
    3.021
    Likes Received:
    65
    Trophy Points:
    48
    Location:
    Perbukitan Karst Jimbaran
    HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyebab AIDS (Acquirred Immunodeficiency Syndrome), sebuah sindrom atau kumpulan dari gejala dan tanda-tanda melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.

    UNAIDS memberikan estimasi pada tahun 1999 di seluruh dunia terdapat 2,3 juta wanita penderita baru, sehingga jumlahnya menjadi 15,7 juta wanita yang hidup dengan HIV/AIDS, atau 46% jika dibandingkan dengan jumlah total penderita AIDS di seluruh dunia. Amerika Serikat mendata 90% wanita yang terinfeksi HIV berkisar antara usia 13-44 tahun, dan 87% anak-anak dengan HIV positif dilahirkan dari ibu dengan HIV positif.

    Seseorang yang terinfeksi HIV perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menderita AIDS. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel yang mempunyai antigen CD4, yang terutama terdapat pada sel limfosit T yang berperan penting sebagai "tentara" dalam menjaga sistem imunitas tubuh. Jumlah sel CD4 dalam darah menunjukkan kuat lemahnya sistem imun seseorang. Seseorang didiagnosa AIDS jika terdapat bukti-bukti melemahnya kekebalan tubuh serta didapatkan jumlah sel CD4 dalam darah di bawah level tertentu.

    Ibu hamil bisa tertular HIV melalui hubungan seksual dengan pasangan/suami pengidap HIV, dapat juga melalui transfusi darah yang terinfeksi HIV, atau penggunaan obat-obat terlarang melalui jarum suntik. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkannya pada bayi yang dikandungnya melalui plasenta pada masa kehamilan, pada saat proses persalinan, serta melalui ASI pascapersalinan.

    Secara keseluruhan, 20-30% penularan terjadi selama periode kehamilan, dan hampir 80% terjadi pada saat persalinan, dengan cara transfusi darah ibu ke bayi melewati plasenta pada saat kontraksi persalinan atau dari hasil paparan darah dan cairan ketuban atau serviks dan vagina ibu yang telah terifeksi HIV.

    Pemberian ASI adalah mekanisme penularan utama pada periode pascapersalinan. Risiko penularan vertikal dari ibu ke janin berbanding lurus dengan konsentrasi virus dalam darah ibu (maternal viral load) dan berbanding terbalik dengan level CD4 dalam darah ibu.

    Lakukan Pemeriksaan

    Setiap wanita hamil atau yang memiliki rencana untuk hamil disarankan untuk melakukan pemeriksaan HIV. Beberapa pusat pelayanan merekomendasikan pemeriksaan HIV pada setiap wanita usia reproduktif yang berencana untuk hamil yang memiliki riwayat atau risiko terpapar dengan HIV.

    Terdapat beberapa jenis pemeriksaan HIV. Yang paling umum adalah pemeriksaan antibodi terhadap virus HIV dalam darah, dinyatakan positif jika antibodi ini ditemukan dalam tubuh. Tubuh perlu waktu untuk membentuk jumlah antibodi yang dapat terdeteksi oleh pemeriksaan. Karena itu, jika infeksi HIV baru terjadi, hasil pemeriksaan bisa menjadi negatif, sehingga pada beberapa kasus yang dicurigai kuat adanya risiko infeksi HIV, pemeriksaan ulang disarankan dilakukan pada trimester ketiga usia kehamilan.

    Pemeriksaan dan konseling ini dapat ditawarkan selama kehamilan bahkan sesaat sebelum persalinan untuk secepatnya memulai pengobatan jika memang hasilnya positif, dengan tujuan untuk mengurangi angka penularan ke bayi yang akan dilahirkan. Pemeriksaan HIV/AIDS ini dilakukan melalui pemeriksaan darah.

    Risiko penularan terhadap janin yang dikandung dapat dikurangi jika ibu tetap menjaga kesehatannya seoptimal mungkin. Dengan pengobatan yang tersedia, yang dikenal dengan Zidovudine (ZDV/AZT), risiko penularan dari ibu ke bayi dapat dikurangi hingga sepertiganya. Angka penularan HIV pada ibu hamil tanpa penggunaan obat antivirus sebagai terapi pencegahan berkisar antara 14-33% pada negara-negara industri, dan lebih besar nilainya pada negara-negara berkembang, seperti di Afrika yang memiliki angka penularan sampai 43%.

    Beberapa faktor risiko lainnya yang juga berpengaruh adalah merokok, penggunaan obat-obatan terlarang, kekurangan vitamin A, malnutrisi, infeksi seperti infeksi menular seksual, serta stadium klinis HIV-nya sendiri. Untuk mengurangi angka penularan, prosedur-prosedur tertentu pada masa kehamilan dan persalinan yang sifatnya invasif dan traumatik juga harus dihindari, ataupun dilaksanakan dengan indikasi ketat.

    Menjadi Pertimbangan

    Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko penularan vertikal lebih kecil pada persalinan dengan cesarean section (SC) yang sudah direncanakan sebelumnya jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam atau SC yang tidak direncanakan. Namun, sebagian besar data ini didapatkan sebelum dimulainya penggunaan terapi antivirus secara efektif maupun metoda penghitungan viral load.

    Kini, dengan adanya pemeriksaan viral load dan level CD4 dalam darah ibu, parameter ini dapat menjadi salah satu pertimbangan apakah lebih baik persalinan dilangsungkan secara normal atau melalui operasi terencana yang pada umumnya dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Sehingga baik untuk diketahui oleh penderita sebelumnya bahwa terdapat beberapa pertimbangan risiko dalam setiap tindakan dan memberikan pilihan terbaik tentang metode persalinan yang paling tepat untuk mereka.

    Penting bagi penderita untuk tetap melanjutkan pengobatan setelah melahirkan. Sebuah studi tahun 1994 menunjukkan bahwa pemberian terapi Zidovudine pada wanita hamil dengan HIV positif selama kehamilan serta pemberian pada bayi 8-12 jam setelah kelahiran sampai 6 minggu sesudahnya mengurangi risiko penularan sampai 66%.

    Sebagai perbandingan, hanya 8% bayi yang terinfeksi HIV dilahirkan dari ibu yang diterapi dengan ZDV, dan 25% bayi terinfeksi HIV dilahirkan dari ibu yang tidak mendapatkan terapi sama sekali. Tidak dilaporkan juga adanya efek samping yang berat dari penggunaan obat ini, kecuali pada beberapa kasus didapatkan adanya anemia ringan pada bayi yang akan segera membaik begitu pengobatan dihentikan. Bayi dengan HIV negatif yang dilahirkan dari ibu dengan HIV positif yang tetap menjalani pengobatan dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

    HIV dan AIDS masih menjadi masalah kesehatan yang harus ditanggapi dengan serius karena hingga saat ini belum ada obatnya. Jika seorang ibu hamil terinfeksi HIV, harus dicamkan bahwa HIV dapat ditularkan ke bayi yang dikandung. Tetapi kini sudah ada banyak cara, pengobatan maupun pencegahan untuk meminimalkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Melanjutkan pengobatan HIV setelah persalinan penting artinya untuk ibu maupun bayi yang dilahirkan. Dengan pengobatan yang berkelanjutan, penderita HIV dapat melanjutkan hidup dengan lebih optimal. (Oleh dr. Nugraha *BP)

Share This Page

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG