Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. Itu artinya upacara yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan, pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. Ekspresi yadnya pada tiga sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan, punia pada sesama umat manusia dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para Artha. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam, sesama manusia dan pada Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. Apakah sesungguhnya makna upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara?
Menurut Lontar Yadnya Prakerti, banten itu ada tiga maknanya yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka ragan ta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda bhuwana. Artinya, semua upakara banten sebagai lambang diri manusia, sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam semesta. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga. Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara bebantenan di berbagai tempat pemujaan. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka Bhagawata Purana. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana punia, melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin, bodoh, sakit, sedih dan dalam keadaan menderita lainnya. Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud penguasaan diri. Dalam Lontar Sundarigama, wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga dengan melakukan widhi widhana. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam Lontar Sundarigama : ...sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa, brata, yoga, semadi. Artinya, mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan tapa, brata, yoga dan semadi. Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih, dua jalan mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Umat yang sudah paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. Letaknya amat sepi tetapi indah, sejuk amat cocok untuk melakukan kontemplasi diri. Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi hiruk-pikuk sosial yang negatif. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan mempermudah mereka yang melakukan tapa brata, yoga, semadhi mencapai tujuan menyucikan diri. Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang selalu relevan dengan perkembangan zaman. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga rasa dekat dengan pendekatan Asih, Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam melangsungkan upacara agama di Pura Besakih. Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Tujuan membangun sistem manajemen yang relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana diisyaratkan menurut Bhagawad Gita. Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia, baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam berdasarkan hukum Rta, membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care sesuai dengan dharma. Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada Tuhan. Meskipun, kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya kalau keadaan alam semakin rusak. Demikian dalam masyarakat keadaannya semakin senjang. Apa itu kesenjangan ekonomi, hukum semakin tidak tegak, birokrasi semakin tidak melayani, politik semakin kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Pengembangan ilmu semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu menyebabkan kegiatan beragama kehilangan maknanya. Ini tentunya bukan berarti kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. Umat penganutlah yang keliru memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan. Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Karena itu amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Tentunya nuansa manajemen yang diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus. Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan perputaran ekonomi, sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu sendiri. Seperti menjadi daya tarik wisata, menimbulkan lapangan kerja seperti adanya transaksi berbagai sarana keagamaan. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura berbagai sarana upacara lainnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral etika keagamaan tentunya bisa saja. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. * wiana
Samani vah akutih
saman hrdayani vah
Samanam astu vo mano
yatha va susahasati.
(Rgveda, X.191,4)
Maksudnya:
Samalah hendaknya tujuanmu, samalah hendaknya hatimu, samalah hendaknya pikiranmu. Dengan demikian semoga semua hidup bahagia bersama-sama. PURA tidak semata-mata sebagai media pemujaan kepada Tuhan dan Dewa Pitara atau roh suci leluhur. Pura memiliki fungsi sosial untuk mempersatukan umat agar umat manusia secara bersama-sama dapat menyatukan dirinya untuk bekerja sama dalam mewujudkan tujuan hidup secara bersama-sama.
Sebelum Mpu Kuturan mendampingi raja, di Bali konon sudah ada tiga buah pura sebagai media pemujaan Tuhan. Ada Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Pura Penataran sebagai media memuja Tuhan untuk memohon tuntunan spiritual dalam upaya membangun persatuan untuk bekerja sama dalam menangani berbagai persoalan hidup bersama di suatu daerah. Demikianlah Pura Kedampal di Desa Pakraman Kedampal Perbekelan Datah Kecamatan Abang, Karangasem sebagai salah satu Pura Penataran untuk menyatukan umat lewat pemujaan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Ini artinya Pura Penataran lebih menekankan pada pemujaan Tuhan dalam rangka mendapatkan kekuatan spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual dan kepekaan emosional untuk menangani penyelenggaraan kehidupan di Bhuwah Loka.
Sementara Pura Segara sebagai simbol agar umat manusia termotivasi untuk menangani kehidupan yang baik di Bhur Loka. Pura Puncak adalah simbol pemujaan Tuhan untuk mendapatkan kekuatan rohani untuk memohon kesucian hidup di Swah Loka. Sebagai sentralnya dalam mengupayakan kehidupan di Tri Loka ini adalah di Bhuwah Loka yaitu pada alam manusia.
Keberadaan Pura Penataran Agung Kedampal ini di samping sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati juga sebagai Pasrarman Ki Dukuh Surya yang diyakini sebagai titisan Batara Surya. Ki Dukuh Surya lahir sebagai pandita dwijati berkat panugrahan Batara di Semeru yaitu Sang Hyang Pasupati. Sang Hyang Pasupati itu adalah sebutan lain dari Batara Siwa. Dalam mitologi Siwagama diceritakan bahwa Batara Surya menjadi murid Batara Siwa. Saat ada rapat para dewa yang dipimpin oleh Batara Siwa hadir juga dalam rapat para dewa tersebut Batara Surya. Batara Siwa menyaksikan bahwa Batara Surya adalah dewa yang paling cerdas dan bijaksana dalam menyampaikan pendapatnya. Karenanya saat itu Batara Siwa menyatakan Batara Surya sebagai muridnya.
Sejak itu Batara Surya boleh menyabutkan dirinya sebagai Batara Siwa Raditya sebagai saksi agung kehidupan di bhuwana agung ini. Karena Batara Surya diangkat sebagai murid maka sejak itu Batara Surya menyebut Batara Siwa sebagai Batara Siwa Guru. Mitologi inilah sebagai dasar mengapa setiap ada upacara yadnya umat Hindu di Bali di areal uranus atau keluwan didirikan bangunan suci yang disebut Sanggar Surya sebagai Sanggar Pesaksi lambang bahwa Tuhan menyaksikan upacara yadnya tersebut.
Nampaknya Ki Dukuh Surya ini adalah pandita dwijati sebagai Adi Guru Loka yang berasrama di Pura Penataran Agung Kedampal. Tujuan Ki Dukuh Surya ini adalah menjadi Pandita Dang Acarya yang mendidik umat agar senantiasa berkerja sama, bersatu mambangun kehidupan yang aman dan sejahtera di bumi ini. Penataran atau jagat ini adalah sentral kehidupan umat manusia yang menentukan baik buruknya kehidupan di bhur loka dan di swah loka.
Kalau salah cara kita menyelenggarakan kehidupan di bhuwah loka ini, maka keadaan di bhur loka akan rusak. Hal itu menyebabkan manusia akan hidup neraka di swah loka. Bhur loka adalah lambang dunia sarwa prani yaitu alamnya flora dan fauna. Dalam Bhagawad Gita dinyatakan, Sarwa Bhuta Hita ratah Brahma nirwana.
Maksudnya barang siapa yang senantiasa dalam hidupnya dengan tekun melestarikan alam (bhuta hita) dia akan mencapai Brahma Nirwana yaitu alam Brahma. Untuk bisa hidup yang baik dan benar di bumi ini amat diperlukan bekerja sama di bawah tuntunan Adi Guru Loka.
Ki Dukuh Surya yang diyakini sebagai keturunan Batara Surya akan dapat memberi pencerahan hidup. Hidup yang cerah adalah hidup yang berilmu. Karena itu dalam Lontar Bhuwana Kosa dinyatakan cara penyucian diri yang paling utama adalah dengan Jnyana Sauca artinya dengan ilmu pengetahuan suci. Karena itu aspek Batara Surya yang memberikan pencerahan adalah Dewi Savitri.
Bahkan dalam Mantra Veda, Savitri Mantra ini sebagai Weda Mata atau ibunya Weda. Savitri Mantra lebih populer dengan sebutan Gayatri Mantram. Karena Savitri Mantra itu menggunakan Metrum Gayatri. Dalam pendidikan memang seorang Acarya harus memberikan ilmu dengan jujur, memberi penerangan jiwa atau pendidikan kerohanian dan memperhatikan perkembangan setiap peserta didik.
Ki Dukuh Surya sebagai seorang Dukuh adalah pandita yang Ngeloka Pala Sraya dengan berdiam diri di pasramannya.Para sisya-lah yang datang ke pasraman memohon tuntunan pada sang pandita. Karena itulah dwijati yang demikian itu disebut dukuh. Sebagai Adi Guru Loka, Pandita Dukuh senantiasa mengupayakan umat agar dapat menyatukan kehendaknya, hatinya dan pikirannya.
Dengan kebersamaan itulah mereka berusaha bersinergi untuk membangun kehidupan yang bahagia. Kehidupan yang bahagia itu adalah kehidupan sejahtra serta aman dan damai. Hal itu hanya dapat dilakukan kalau adanya keharmonisan yang dinamis dituntun oleh pandita yang berkualitas. Menyamakan kehendak, hati dan pikiran tidaklah mudah. Untuk itu dibutuhkan tuntunan dari seorang Pandita Dukuh yang berkualitas sebagai Dang Acarya.
Lebih-lebih hidup di bhuwah loka atau di Penataran Buwana ini harus dilakukan dengan jnyana sauca atau ilmu yang memberi kesucian. Ilmu itu kalau salah cara kita memahami dapat menimbulkan kegelapan hati atau timira. Namun kalau tepat cara kita memahami ilmu pengatahuan, maka hal itulah yang akan dapat memberikan kita kesucian diri.* I Ketut Gobyah source : BaliPost
Maksudnya: Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.
SLOKA Manawa Dharmasastra ini memiliki makna yang sangat luas. Untuk menyelamatkan leluhur dan keturunan harus dimulai dari melakukan perkawinan dengan cara yang terhormat. Perkawinan Brahma Vivaha adalah jenis perkawinan yang paling terhormat. Di samping dilakukan dengan landasan cinta sama cinta yang juga sangat penting dilakukan dengan pertimbangan kerohanian yang dalam.
Kalau dari perkawinan ini melahirkan putra dan putra itu berperilaku dan berbuat baik maka perbuatan baik itu akan dapat membebaskan dosa-dosa leluhur dan keturunannya, di samping diri sang putra sendiri. Perbuatan baik yang bagaimana dapat menyelamatkan membebaskan leluhur dan keturunan tersebut. Dalam Narada Purana disebutkan nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata yang ingin membebaskan dosa-dosa leluhurnya yang pernah menghina dan menyiksa Resi Kapila yang sedang bertapa.
Salah satu nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata adalah dengan jalan melanjutkan cita-cita suci dari leluhur. Cita-cita suci leluhur itu tidak semata-mata melakukan meditasi atau Dewasraya. Tetapi, dengan melakukan perbuatannya nyata seperti menjaga tetap lestarinya Sarwaprani (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Menolong mereka yang sedang susah dan menderita. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan. Membangun pasar, tempat peristirahatan, menghormati mereka yang berjasa, dan menegakkan keadilan, serta memelihara tempat pemujaan, dst.
Dengan perbuatan baik itulah leluhur akan bebas dari dosa dan kemudian keturunan mendapatkan keselamatan. Untuk memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan leluhur umat Hindu di zaman lampau meninggalkan warisan konsep kawasan suci. Kawasan suci itu disebut Alas Angker, Alas Rasmini atau Alas Arum. Salah satu cara melestarikan kawasan suci tersebut dengan membangun tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas. Tempat pemujaan di hutan itu tidak perlu didatangi oleh banyak umat. Umat yang datang ke tempat pemujaan di hutan itu hanyalah orang-orang yang terpilih yang memang benar-benar bertujuan untuk melakukan pemujaan yang tulus. Bukan untuk rekreasi atau untuk mereka yang berkaul yang memohon atau melestarikan jabatan, mohon memenangkan tender proyek dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Karena itu, banyak leluhur kita di masa lampau meninggalkan hutan-hutan yang disebut alas angker. Di Bali banyak hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker.
Tetapi, sekarang sudah banyak yang dirusak ditebangi pohon-pohon yang berfungsi sebagai waduk menahan air. Di Pulau Jawa pun masih banyak ada peninggalan Alas Angker seperti misalnya Alas Purwa di Jawa Timur. Alas Purwa ini juga merupakan peninggalan leluhur di masa lampau sebagai Alas Angker.
Arti hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker oleh leluhur di masa lampau bertujuan menjaga hutan dengan menstatuskan hutan itu sebagai hutan yang keramat. Hutan yang disebut Alas Angker itu karena tempatnya dikeramatkan. Di sana tentu banyak vibrasi kesucian yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan di hutan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kepekaan rohani akan sangat tertarik untuk datang ke tempat-tempat yang seperti itu. Kita tentunya sangat mengharap siapa pun boleh datang ke hutan yang angker seperti itu, cuma yang perlu dijaga adalah niat suci dan tulus ikhlas. Janganlah datang dengan tujuan untuk rekreasi duniawi atau memanjatkan permohonan yang Rajasika dan Tamasika.
Kalau Alas Angker tidak lagi memancarkan keangkerannya maka orang-orang yang berniat jahat seperti pencuri kayu hutan akan tidak merasa takut datang ke hutan yang sudah merosot keangkerannya. Di sinilah kita tidak melanjutkan konsep Alas Angker yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Kalau ini sampai terjadi tinggal kita menunggu balasannya. Balasan itu akan menyengsarakan rakyat seperti hutan gundul, banyak pohon yang tumbang, sumber air menghilang, udara terpolusi, cuaca menjadi makin panas.
Dari alam yang rusak itu manusia tinggal memetik buah penderitaan darinya. Dengan merusak alam seperti itu, leluhur dan keturunan pun tidak akan terbebaskan dari dosa-dosanya. Kita bersyukur kepada umat di Jawa Timur yang makin sadar untuk menjaga keangkeran hutannya seperti umat Hindu di Alas Purwa. Semoga hutan-hutan berserta isinya dijaga dengan cara niskala diikuti dengan cara-cara yang sekala yaitu dengan langkah nyata melestarikan hutan tersebut.
BERSEMBAHYANG bisa di mana saja. Di kamar bisa, di ruang tamu dengan menggelar tikar, juga bisa. Di ruang kelas pun bisa, terutama buat pelajar. Bersembahyang di kamar kerja, bagi pegawai negeri dan karyawan swasta, juga sudah biasa dilakukan di kota-kota besar. Kalau di luar ada suara hiruk pikuk yang mengganggu konsentrasi, saya biasanya memutar kaset tabuh gong atau kidung yadnya. Tujuannya adalah membawa pikiran pada satu fokus yang paling memungkinkan untuk mencapai suasana religius.
Kalau bersembahyang bisa di mana saja, asal jangan di perempatan jalan yang lagi ramai lalu lintasnya, untuk apa mengunjungi pura? Kenapa umat berduyun-duyun pergi ke pura tri kahyangan pada saat hari raya Galungan yang lalu? Kenapa Pura Luhur Batukaru penuh sesak pada saat Manis Galungan yang lalu? Dan apa pula penyebabnya umat berbondong-bondong datang ke Kintamani, bukan untuk melihat Danau Batur, tetapi bersembahyang ke Pura Ulun Danu pada Purnama Kedasa, Jumat kemarin? Suasana ramai dan meriah itu akan terulang kembali pada minggu depan, Senin Kliwon di Pura Dasar Gelgel dan Sabtu Kliwon di Pura Sakenan.
Jelas ada daya tariknya kenapa pura dikunjungi. Yang pertama-tama dalam pikiran masyarakat tradisional adalah pura itu "tempat tinggal" Sesuhunan, Dewa, Bethara, Hyang Widhi. Mereka tak perlu lagi memerinci apa beda Dewa, Bethara, dan Hyang Widhi itu. Kebanyakan umat hanya tahu ke pura untuk bersembahyang, tak menghiraukan dengan teliti apakah persembahyangan itu di depan meru, bale gedong, atau padmasana. "Sembahyang untuk memuja Tuhan," kata keponakan saya yang baru kelas dua SD. Bagi dia sama saja, bersembahyang di merajan, di Pura Puseh, di Pura Mekori, di Pura Ulun Danu Batur, semuanya memuja kepada Tuhan.
Baru-baru ini anak saya bersama teman-temannya melakukan tirtayatra ke berbagai pura, sebagai rasa syukurnya karena baru saja lulus ujian di Fakultas Teknik Universitas Udayana. Melihat pura yang dikunjungi dan alasannya, saya memastikan pemahaman dia tentang pura dan siapa yang "diam" (berstana) di sana, lebih bagus dari keponakan saya yang kelas dua SD itu. Saya kemudian menyarankan, bagaimana kalau mengunjungi pura (tirtayatra) itu dengan cara-cara yang dikehendaki oleh para leluhur kita, yakni pikiran kita sudah dibawa ke alam keheningan sebelum sampai di pura. Anak saya bertanya, apa maksudnya?
Para leluhur kita mendirikan pura atau meninggalkan warisan tempat suci yang kemudian oleh pengikutnya dibangun pura, lebih banyak di tempat-tempat di mana orang harus melakukan "perjalanan penuh rintangan" sebelum sampai ke pura itu. Pura Ulun Danu Batur, sebagaimana namanya, berada di pinggir danau, yang dahulu kala harus dicapai dengan berjalan kaki di terjal-terjal. Pura Lempuyang dibangun di puncak gunung, di mana orang harus datang ke sana melewati jalan yang kiri kanannya tebing curam. Pura Sakenan berada di tengah pulau, dan umat yang datang harus naik perahu atau berjalan kaki dengan memperhitungkan naik turunnya air laut. Begitu pula Pura Tanah Lot berada di karang yang dipisahkan dengan air laut yang kadangkala bisa pasang. Apa yang dimaui para leluhur kita di masa lalu itu? Kenapa tidak membangun pura di tempat pemukiman biasa saja, seperti Mpu Kuturan menganjurkan membuat pura tri kahyangan dan "pura modern" seperti Pura Jagatnatha?
Jawabnya adalah para leluhur itu ingin umat yang datang menyadari adanya "rintangan" dalam perjalanan itu. Dengan adanya "rintangan" itu, umat sudah terkonsentrasi untuk mendekatkan dirinya kepada Hyang Widhi atau leluhur kita yang sudah menyatu dengan Hyang Widhi, yang akan kita sembah di sana. "Rintangan" itu tak lain adalah cara tak langsung untuk melakukan japa dan juga samadhi, sehingga begitu sampai di pura, pikiran otomatis sudah terfokus dan persembahyangan langsung bisa dimulai.
***
SEKARANG "rintangan" itu sudah dihilangkan oleh manusia-manusia modern. Pulau Serangan di mana Pura Sakenan berada sudah menyatu dengan Bali. Orang datang naik mobil dan motor, menderu-deru sampai depan pura. Lalu bertengkar dengan tukang parkir, atau mengumpat karena mobilnya keserempet, atau ngedumel karena parkirnya susah, dan langsung masuk pura. Pikiran apakah yang dibawanya ketika berada di jeroan pura, dan langsung dituntun bersembahyang? Pikiran yang masih penuh marah, pikiran yang masih ngedumel, setidak-tidaknya jauh dari rasa hening. Padahal dulu, ketika saya sekeluarga pergi ke Pura Sakenan dan masih naik jukung, semuanya seperti terpaku hening dan berdoa agar selamat sampai di tujuan.
Beberapa tahun lalu, saya punya kisah yang bisa dikenang ketika sekeluarga ke Pura Dasar Gelgel pas di hari Pemacekan Agung. Bayangkan betapa ramainya. Anak saya kecil, berdesak-desakan. Ada yang mendorong dari belakang, istri saya yang melindungi anak saya, kena sikut mukanya. Ia menegor lelaki yang menyikutnya. Lelaki itu tersinggung dan marah, lalu istri saya ikut marah. Apa yang saya lakukan? Saya menarik tangan istri saya dan anak saya ke luar dari kerumunan, lalu duduk di bale gong. Anak saya bertanya, kenapa mengaso? Saya jawab, apa gunanya bersembahyang ketika pikiran masih dipenuhi rasa marah dan dendam. Kami istirahat sejenak, mendengarkan bunyi gamelan, setelah pikiran tenang baru masuk ke jeroan.
Sekarang ini pengaturan masuk di Pura Dasar Gelgel di hari Pemacekan Agung sudah berlapis tiga dan mulai tertib. Tetapi masih saja ada dorong-mendorong, dan ada maki-makian di antara pengunjung. Suasana seperti ini hampir terjadi di setiap pura kalau ada pujawali besar. Termasuk Pura Besakih. Penyebabnya adalah kawasan suci pura sudah makin sempit. Dan manusia-manusia modern sudah mempersempitnya lagi dengan memberikan akses masuk bagi kendaraan, pedagang, dan sebagainya ke lokasi paling dekat pura. Akibatnya, umat ke pura selalu dalam posisi grasa-grusu (tergesa-gesa dengan cara sembrono).
Sudah saatnya umat diberikan pengertian hal yang paling mendasar, seperti bagaimana etika mengunjungi pura, dan siapa yang dipuja di pura itu. Jika perlu siapkan buku sejarah pura itu yang bisa dijual. Pura besar di Bali termasuk Pura Ulun Danu semuanya punya sejarah, dan ini harus diketahui umat. Kalau tidak, akan muncul generasi mula keto jilid dua: generasi yang tak bisa menjelaskan apa-apa mengenai ritual dan agamanya sendiri.
Oleh : Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa
Pemahaman tentang ajaran agama hindhu secara umum sangat beragam, dalam artian tidak dogmatis. Namun pada intinya ajaran agama hindhu berpegang pada ” cinta kasih ”. Sebagai umat beragama sepatutnyalah kita saling damai, tidak menyakiti, tidak merugikan, serta menghargai hak asasi orang lain. Melalui mengembangkan rasa solidaritas antar umat beragama, niscaya kedamaian akan selalu melapisi hidup umat beragama.
Menurut Ida Pedanda Sebali Tianyar, dengan memahami konsep cinta kasih antar umat beragama, hubungan koneksitas antar umat akan terbina sehingga tercipta kesetaraan, rasa saling asah, asih, asuh, yang merupakan wujud tanggung jawab dalam membangun solidaritas yang kukuh. Rasa solidaritas antar umat beragama juga merupakan kunci dalam pemahaman ajaran Hindhu. Apalagi di era global ini, banyak orang yang masih memiliki pemahaman yang terkadang jauh dari tafsir ajaran yang sesungguhnya. ” Dalam kehidupan beragama kita berasal dari ’satu’, yaitu Tuhan dan umat beragama menyebut-Nya dengan banyak nama, baik itu Allah, Yesus atau Hyang Widhi. Artinya kita sebagai umat beragama meski berbeda keyakinan, tetapi tujuan kita tetap satu yaitu Tuhan. Ia-lah yang mempersatukan kita. Meski sering terjadi perbedaan pendapat, hal itu wajar. Oleh sebab itu, marilah kita mengkoreksi diri demi tujuan yang mulia. Karena kedamaian itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri ” ujar Ida Pedanda ketika turut berpartisipasi dalam UNCCC di Nusa Dua tempo hari.
Beliau menyatakan bahwa ajaran agama apapun tidak ada yang mutlak, karena mudah memicu tumbuhnya kekerasan, yang berbuntut pertikaian. Seyogyanya elastisitas jiwa kita lentur dan tidak kaku layaknya setangkai rotan, filosofi tersebut menunjukan bahwa bahasa agama merupakan bahasa jiwa, jiwa tersebut melekat pada tubuh manusia yang disebut dengan jiwatma. Jiwatma terdapat pada setiap makhluk yang bersumber pada satu yaitu parama atma (roh yang agung). Setiap agama pada hakekatnya mengajarkan kebajikan kepada umatnya melalui sikap saling menghargai atau toleransi antar umat beragama. Adanya ajang diskusi agama seperti dharmawacana, setidaknya dapat menuntun sekaligus memberikan penyegaran pikiran atau perasaan kepada umatnya, sehingga bisa kita rasakan bahwa kita jauh lebih mengutamakan kebersamaan, persaudaraan dan kebahagiaan bersama.
Agama Hindhu khususnya di Bali tidak mengenal adanya Catur Kasta, namun masih memberlakukan Catur Warna tentang pembagian tugas. Jadi setiap orang berhak untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa memandang lagi apa orang tersebut tergolong Ida Bagus, Anak Agung, Gusti, atau sebagainya. Apabila ada seorang Anak Agung memiliki pekerjaan sebagai pencuri, kuli, atau pekerjaan nista sekalipun, jika orang tersebut mampu bertanggung jawab atas pilihan hidupnya atau dengan melakukan hal tersebut dapat membantu orang yang sedang kesusahan, hal itu sah-sah saja, siapapun tidak mempunyai hak untuk melarang, meskipun jika dipandang dari sudut moral hal tersebut salah. Karena semua perbuatan yang kita lakukan akan berpulang pada kita sendiri juga. Ingatlah hukum karma. Apabila berbicara mengenai derajat dalam aspek kehidupan beragama, dimanapun masih berlaku. Bagaimana seseorang dapat dikatakan kaya, apabila tidak ada orang yang miskin, begitu pula yang berlaku dalam kehidupan beragama. Seperti di India sistem pengelompokan atau kasta masih berlaku, bahkan benar-benar ekstrim. Hal itulah yang membedakan antara ajaran agama hindhu di India dengan Hindhu Bali.
Dalam kehidupan beragama hendaklah kita saling rukun, damai, tidak menyusahkan orang lain. ” Kita yang bergelut dalam bidang rohaniawan, memiliki kewajiban dan harus peka terhadap keadadilan dan kesetaraan dalam seluruh aspek kehidupan dan mencari jalan keluar terhadap suatu permasalahan. Karena kita sebagai manusia yang hidup harus berpijak atas prikemanusiaan. The best religion is humanity. Sah saja bila derajat, kaidah-kaidah norma atau apapun dikedepankan, apabila hal tersebut terdapat dalam sastra agama, tapi jika ditinjau dari segi realitas, kita juga harus berpegang pada rasa kemanusiaan, sekalipun orang yang kita bantu itu adalah seorang penjahat, pecandu narkoba, sesungguhnya orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang perlu kita rangkul dan kita bantu untuk sembuh dari penyakitnya, apa tega kita melihat orang-orang yang kelaparan dan kesusahan ?” ujar Ida Pedanda. Beliau juga menambahkan, bahwa beliau selaku mediator sekaligus selaku perangkat dalam umat beragama, memiliki tugas yang sangat berat dengan mengemban tugas untuk memberikan wejangan dan mengharapkan pengendalian diri dari umatnya. Sisi kemanusiaan dalam diri perlu kita tumbuhkan, karena hal itu merupakan tongkat penyangga dalam kehidupan beragama, tujuannya tidak lain adalah untuk mewujudkan suatu kedamaian.
source: e-banjar.com
Terakhir di-edit oleh goesdun; 31-05-2008 Pk. 10:10 PM.
Dhanikah strotriyo raajaa
Nadii vaidyastu pancamah.
Panca yatra na vidyate
Na tatra divasam vaset.
(Canakya Nitisastra I,9)
Artinya: Apabila tidak ada lima unsur seperti orang kaya (dhanikah), orang suci (strotria) yang ahli Veda, pemimpin (Raja), orang yang ahli dalam pengobatan (vaidya) dan sungai (nadi), di tempat tersebut, maka hendaknya janganlah bermukim di tempat itu.
HIDUP bersama di dunia ini membutuhkan berbagai unsur yang mampu bersinergis untuk menciptakan fasilitas hidup yang dapat dijadikan unsur mendorong manusia menjadi semakin sejahtera lahir batin. Untuk itu dibutuhkan modal. Orang kaya dalam Sloka Canakya Nitisastra tersebut di atas adalah orang yang mau mendayagunakan dananya untuk dikembangkan menjadi unit-unit usaha yang mampu mendaya gunakan berbagai produk masyarakat yang dapat memberikan manfaat ekonomi secara adil. Usaha itu juga dapat menampung tenaga kerja dan pajak untuk negara.
Dewasa ini orang kaya sudah dijelmakan dalam bentuk usaha keuangan seperti bank. Bank bisa dijadikan media meningkatkan kemakmuran ekonomi. Begitu juga, srotria sebagai orang suci untuk dapat menuntun manusia yang bermukim di lingkungan itu. Orang suci itu dapat dijadikan tempat oleh umat untuk mengembangkan keluhuran moral dan daya tahan mental dalam menghadapi hiruk-pikuknya kehidupan. Manusia sebagai anggota masyarakat yang bermukim dalam suatu wilayah pemukiman juga membutuhkan pemimpin.
Pemimpin sangat dibutuhkan untuk mengkoordinasikan berbagai hal agar semua unsur dapat disinergikan menjadi sumber pendorong umat memajukan kehidupan. Tanpa pemimpin tidak ada yang mengkoordinasikan berbagai potensi dalam masyarakat tersebut. Unsur yang lain yang juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah air atau sungai. Dalam sloka Canakya Nitisastra disebut Nadi. Betapapun majunya suatu ekonomi masyarakat, ia tidak dapat hidup tanpa berdasarkan ekonomi agraris. Ekonomi industri dan jasa tidak mungkin lepas dari ekonomi agraris. Ekonomi agraris itu membutuhkan air.
Fungsi sungai di samping untuk tujuan agraris juga menampung air hujan yang tidak dapat diresap seketika oleh tanah. Demikianlah pentingnya Nadi dalam konsep pemukiman menurut perspektif Sastra Hindu. Unsur selanjutnya waidya yaitu ahli pengobatan. Apa pun upaya manusia untuk mencegah munculnya penyakit, sakit itu pasti pernah muncul pada dirinya. Dalam konsep memelihara hidup sehat dan istilah yang sangat populer yaitu: ''lebih baik mencegah daripada mengobati''. Untuk mencegah agar kita jarang sakit, dalam kitab Ayur Veda ada diajarkan untuk mengelola hidup dengan tiga cara yaitu Ahara, Vihara dan Ausada.
Ahara selalu mengkonsumsi makanan yang sehat. Makanan yang sehat dalam Bhagawad Gita disebut satvika ahara. Vihara adalah mengembangkan gaya hidup yang benar dan wajar. Artinya, gaya hidup sesuai dengan tuntutan Sastra Agama. Di samping itu jangan lupa menjaga kesehatan fisik dengan memakan makanan yang alami. Demikian juga bahan obat-obatan sesungguhnya sudah tersedia di lingkungan alam sekitar kita bermukim.
Dalam Upa Veda ada yang disebut Ayur Veda sebagai ilmu yang mengajarkan tentang memelihara kesehatan. Di kalangan umat Hindu di Bali dikenal kelompok Pustaka Lontar yang disebut usada. Dalam usada tersebut juga diajarkan tentang ilmu pengetahuan untuk memelihara kesehatan jasmani maupun rohani.
Dalam usada juga diajarkan mengenal tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan bahan obat-obatan. Di India, Ayur Veda sudah dikembangkan sedemikian rupa, sehingga telah menjadi sebuah cara memelihara kesehatan yang sudah memasyarakat. Di fakultas kedokteran di India sudah ada jurusan kedokteran Ayur Veda, di samping kedokteran Barat. Lama belajar antara kedokteran Ayur Veda dan kedokteran Barat sama. Setelah tamat mereka dapat membuka praktik di masyarakat. Dengan demikian masyarakat bebas memilihnya.
Sistem kedokteran Ayur Veda dapat berkembang demikian, karena melalui proses yang panjang. Demikian juga usada di Bali memang sudah dijadikan dasar dalam sistem pengobatan tradisional. Ke depan, pengobatan dengan bahan tumbuh-tumbuhan ini tentu dapat dikembangkan secara modern melalui berbagai penelitian, seminar, lokakarya dan berbagai percobaan. Dalam hal ini, berbagai disiplin ilmu lainnya patut didayagunakan dalam membantu mengembangkan ilmu usada ini agar dapat berkembang.
Ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu botani, ilmu farmasi, dll. patut dijadikan ilmu yang dapat membantu pengembangan ilmu usada itu agar dapat diaplikasikan dalam sistem kehidupan modern. Para ilmuwan Hindu dari berbagai disiplin ilmu diharapkan dapat terpanggil untuk ikut serta memajukan ilmu usada ini, agar ilmu warisan nenek moyang kita lebih dapat didayagunakan untuk kesejahteraan hidup umat manusia di kolong langit ini. Di samping itu, berbagai isi flora dan fauna sebagai bahan obat-obatan dapat lebih dipahami maknanya dalam hidup ini. * I Ketut Gobyah
source: Balipost
Idaanim dharma pramaanaanyaa.
Wedo'khilo dharma mulam
Smrtisile ca tadvidam
Aacaaracaiva saadhuunaam.
Aatmanastustireva ca. (Manawa Dharmasastra.II,6).
Artinya: Seluruh pustaka suci Weda (Sruti dan Smrti) sumber dari Dharma. Kemudian barulah Sila (tingkah laku yang suci). Lalu kemudia muncul Acara (kebiasaan Weda) dan kepuasan Atman.
SLOKA Manawa Dharmasastra tersebut adalah sistem penerapan Dharma atau sistem pembumian kebenaran Weda. Ia benar-benar nyata menjadi penuntun kehidupan umat Hindu. Umat manusia yang mengamalkan ajaran Weda itu berada pada lingkup kekuasaan ruang dan waktu. Adanya perubahan ruang dan waktu itu maka ia mengalami perubahan secara terus-menerus dalam pentradisinya.
Tradisi Hindu, acara itu harus terus-menerus dikembalikan pada sumbunya yaitu kitab Sruti dan Smrtinya. Setiap perubahan kalau ada yang dirasakan menyimpang dari sumbernya maka carilah sumbernya yang lebih tinggi. Apabila ia acara (tradisi Weda), sumbernya adalah Sila. Sila itu sumbernya adalah Smrti. Sumber yang tertinggi adalah Weda Sruti. Demikianlah menurut Sloka Manawa Dharmasastra yang dikutip diatas.
Dinamika pengamatan Weda, tentunya tidak akan menimbulkan permasalahan kalau dinamika perubahan itu selalu bersumber pada dharma atau kebenaran Weda. Masalah akan muncul kalau dinamika pengamalan dharma dari Weda itu sudah semakin jauh dari sumbunya. Konflik pasti akan timbul kalau dinamika itu tidak berjalan diatas relnya dharma. Kalau dinamika itu ada di luar rel dharma pasti akan ada yang dirugikan atau disengsarakan.
Demikianlah halnya umat Hindu di Indonesia. Pada zaman Majapahit, agama Hindu dianut di seluruh Nusantara. Dalam proses perkembangan Hindu, ada kesalahan menerapkan ajaran suci Weda, akhirnya umat Hindu merosot drastis dan tinggal di Bali. Di Bali kehidupan beragama Hindu hanya dipelihara dengan adat-istiadat atau tradisi yang pada umumnya tidak dipahami arti dan makna dengan baik.
Dengan kemajuan zaman, banyak umat yang daya nalarnya meningkat dalam bidang Agama. Dari mereka ada yang makin paham bahwa banyak adat-istiadat yang bertentangan dengan sumbernya. Bagi umat Hindu yang peduli akan ajaran agamanya tentu menginginkan agama Hindu yang mereka anut diluruskan dari penyimpangan-penyimpangan tersebut. Mereka sering malu karena dicemooh oleh umat lain. Misalnya umat Hindu kok membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dengan sistem Kastanya.
Pada hal dalam sumber ajarannya di Sruti, Smrti maupun dalam kitab Sastranya tidak ada konsep kasta itu. Yang ada adalah sistem Catur Varna yang sangat mulia. Demikian juga sistem Kepanditaannya tidak ada diajarkan dalam ajaran Hindu bahwa Pandita itu harus dari Wangsa tertentu saja. Tradisi Hindu yang bertentangan dengan sumber ajarannya sampai saat ini dirasakan masih sangat sulit mengembalikan pada sumber ajaran.
Oleh karena itu, kritik konstruktif dari dalam diri umat Hindu itu harus terus disalurkan. Jangan takut dikritik. Tidak ada kemajuan tanpa kritik. Kritik memang penting, tetapi autokritik jauh lebih penting. Asalkan kritik itu dilakukan dengan cara yang tidak membabi buta.
Sebelum kritik disampaikan, perlu didahului tahapan proses, dengan pengamatan dan analisis yang mendalam dan ilmiah. Hal ini untuk menggulirkan pembaruan dalam kehidupan beragama Hindu. Proses pembaruan dalam kehidupan beragama Hindu memang sudah digulirkan sejak lahirnya Piagam Campuan tahun 1961. Tetapi, dalam praktiknya banyak hal yang sudah ditetapkan dalam Piagam Campuan tersebut jalannya tersendat-sendat.
Memang ada kelompok tertentu yang sudah kadung mendapatkan kenikmatan sosial dan keuntungan material sangat sulit diajak melakukan perubahan kehidupan beragama yang makin mengarah pada terlaksananya agama Hindu sesuai dengan ajaran Weda. Mengembalikan berbagai tradisi yang menyimpang pada konsep Weda dan mempertahankan tradisi yang masih relevan tentu menimbulkan pro dan kontra.
Hal itu hendaknya dianggap sesuatu yang biasa dalam suatu proses sosial. Janganlah konflik seperti itu dianggap sebagai perpecahan. Masyarakat itu selalu berproses ada yang menuju asosiatif integratif dan ada juga yang mengarah disosiatif menuju deferensiatif. Semua proses sosial itu memiliki aspek negatif dan positif masing-masing. Ke mana pun arah proses sosial itu hendaknya menuju pada penegakan sumbu agama Hindu yaitu kitab suci Weda dan Sastra-sastranya. Atmanastuti bersumber dari tradisi Weda atau Acara. Acara bersumber dari Sila. Sila bersumber dari Smrti, dan Smrti bersumber dari Sruti. * I Ketut Gobyah
source: BP
Paasako matsyaghaati ca vyaadhah saakunikas tathaa
Adaataa karsakas ca iava pancat te sama bhaginah. (Parasara Dharmasastra II.10).
Artinya: Seorang pasaka (orang yang menangkap binatang dengan memasang jerat) nelayan, pemburu, penangkap burung, orang pelit dipandang sama dan sama juga kualitas dosanya.
HIDUP di dunia ini memang tidak dapat menghindar sama sekali dari perbuatan dosa. Dosa itu hanya dapat dikurangi dan dilemahkan dengan lebih banyak berbuat yang baik seperti melakukan punia dan bhakti. Punia artinya melakukan kebajikan, sedangkan bhakti melakukan pemujaan pada Tuhan dan Dewa Pitara atau leluhur yang telah suci.
Bahkan dalam Manawa Dharma Sastra III.68 dinyatakan bahwa tiap kepala keluarga memiliki lima tempat pembunuhan. Lima tempat pembunuhan itu adalah tempat memasak, batu pengasah, sapu, lesung dengan alunya, tempayan tempat air. Pemakaian lima alat itu menimbulkan dosa.
Namun dalam Manawa Dharma Sastra III.69 dinyatakan bahwa untuk menebus dosa terhadap pemakaian lima alat itu tiap kepala keluarga diajarkan agar melakukan Panca Yadnya tiap hari.
Panca Yadnya tiap hari berwujud Yadnya Sesa yang di Bali disebut masaiban. Yadnya dalam wujud simbolis dengan makanan yang dimasak hari itu sebelumnya disisihkan sedikit dan dijadikan simbol persembahan sebagai wujud Panca Yadnya yang terkecil. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi dosa pembunuhan di lima tempat tersebut.
Negara maju seperti Amerika Serikat sudah memiliki Undang-undang Hak-hak Asasi Hewan. Meskipun tidak dilarang memakan dagingnya, hewan itu harus diperlakukan dengan perasaan yang halus. Tidak dibenarkan memperlakukan hewan dengan semena-mena. Karena itu di AS kalau menyakiti hewan dengan semena-mena pasti ditangkap apabila diketahui oleh petugas negara. Dalam sloka Parasara Dharmasastra yang dikutip di atas dinyatakan bahwa pelit itu juga termasuk dosa, sama dengan menyiksa binatang. Meskipun tergolong dosa yang ringan.
Orang pelit itu adalah orang yang sudah mendapat karunia dari Tuhan berupa rezeki lebih dari yang lain. Namun rezeki itu lebih banyak hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Perolehan rezeki lebih banyak dari yang lain itu adalah suatu peluang yang diberikan oleh Tuhan untuk menolong mereka yang masih dalam keadaan kekurangan. Pada zaman modern sekarang ini sesungguhnya sudah lebih banyak tercipta peluang mendapatkan rezeki. Kalau dibandingkan dengan zaman ekonomi masih mengandalkan sistem ekonomi agraris semata.
Mengapa masih ada kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, karena masih ada yang pelit dan tidak adil dalam mendistribusikan rezeki tersebut. Mendapatkan rezeki lebih dari orang lain sering tidak dijadikan kesempatan melakukan dana punia kepada orang yang lebih miskin atau lebih membutuhkan. Bahkan banyak pihak mendapatkan rezeki lebih banyak melalui jalan yang tidak adil, memeras mereka yang kedudukan sosialnya lebih lemah. Bahkan ada yang mendapatkan rezeki lebih banyak itu melalui cara-cara jahat. Rezeki yang lebih banyak sering dirasakan sedikit meskipun secara nominatif mereka sudah jauh lebih banyak memiliki harta benda dari yang lain. Namun hal itu dirasakan masih jauh dari cukup. Karena itu, niat untuk berdana punia pun tidak muncul dalam diri. Orang seperti inilah tergolong pelit. Rezeki yang diperolehnya tidak dikelola berdasarkan kesadaran budi, lebih banyak menggunakan gejolak hawa nafsu.
Sifat pelit banyak menimbulkan kesenjangan ekonomi dan sosial, yang dapat menjadi pemicu timbulnya perbuatan-perbuatan dosa. Sifat pelit membunuh tumbuhnya keseimbangan hidup di tengah kehidupan bersama dalam masyarakat. Penderitaan akan dirasakan lebih pedih di hadapan orang yang serba berlebihan oleh mereka yang kecil. Namun akan terobati kalau mereka yang memiliki rezeki lebih itu mau menginvestasikan kelebihan untuk membuka peluang rezeki pada mereka yang lebih kecil. Misalnya kalau mereka yang tergolong kaya itu mau berbelanja di warung rakyat kecil, tidak selalu ke pasar swalayan, bahkan sampai ke luar negeri. Hal itu akan dirasakan pula sebagai sesuatu yang baik dan sebagai suatu punia.
Maksudnya: Pada zaman Kerta puncak beragama dengan Tapa. Pada zaman Treta dengan Jnyana. Upacara Yadnya pada zaman Dwapara. Sedangkan pada zaman Kali dengan Daana Punia.
MANAWA Dharmasastra I.86 yang dikutip di atas menyatakan, bahwa Tapa adalah prioritas beragama pada zaman Kerta. Jnyana pada zaman Treta, upacara yadnya pada zaman Dwapara dan Daana Punia pada zaman Kali. Ingat Daana tidak sama artinya dengan Dhana. Daana artinya memberikan dengan tulus ikhlas. Sedangkan Dhana artinya harta benda termasuk uang. Pemberian itu hendaknya didasarkan pada punia.
Punia artinya pengabdian. Daana atau pemberian dengan dasar punia itu tidaklah semata-mata dalam wujud uang. Dapat saja dalam bentuk tenaga, keahlian, dalam wujud waktu, dorongan moral, juga dalam bentuk menahan indria atau hawa nafsu. Seperti tidak serakah, tidak mudah tersinggung, hidup tidak pamer kekayaan, dll.
Dalam Sarasamuscaya 180 menyatakan lebih utama melakukan Abhaya Daana daripada Sarwa Daana. Abhaya Daana artinya pemberian untuk melenyapkan rasa takut. Sedangkan Sarwa Daana adalah pemberian dalam bentuk harta benda. Jadinya kalau bisa, kita saling memberikan bimbingan sesama umat sehingga hidup ini menjadi saling beryadnya (Cakra Yadnya). Orang takut itu karena kebodohannya.
Kalau ia berilmu baik Guna Vidya atau ilmu yang dapat dijadikan dasar mencari nafkah maupun Tattwa Adyatmika atau ilmu kerohanian maka rasa takut itu pun akan mudah diatasi. Bhagwad Gita XVIII.5 menyatakan hendaknya jangan pernah berhenti melakukan Daana, Yadnya dan Tapa. Karena Daana, Yadnya dan Tapa itulah yang akan menyucikan orang yang bijaksana.
Daana dalam hal ini dapat diwujudkan dalam wujud investasi. Investasi itu diplot dalam wujud program dengan landasan Konsep Cakra yadnya sebagaimana disebutkan dalam Bhagawad Gita III.16. Investasi itu untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Investasi itu dapat menampung tenaga kerja, memupuk modal, pajak untuk negara dan memelihara lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya.
Karena investasi itu mengelola uang dan berbagai sumber daya maka akan terjadi banyak godaan. Dalam hal inilah kita harus tingkatkan Tapa untuk tidak mudah tergoda untuk menyeleweng dari rencana pengembangan investasi tersebut. Hal ini akan sangat sesuai dengan konsep Mantra AtharvaVeda.III.24.5 yang menyatakan bahwa carilah uang dengan seratus tangan Daana. Puniakanlah dengan seribu tangan. Hal ini tentunya dilakukan melalui investasi yang benar. Dalam Slokantara pada Sloka 2 menyatakan bahwa juah lebih utama memiliki seorang Suputra daripada seratus kali berupacara yadnya. Kalau kita berhasil mengembangkan Daana Punia, arahkan penggunaannya untuk mengembangkan pendidikan untuk melahirkan SDM yang berkualitas (suputra). Menolong mereka yang patut mendapat pertolongan (sang Patra), jangan dihabiskan untuk upacara agama yang lebih menonjolkan hura-hura.
Untuk membangun SDM yang suputra itu berikan kesempatan lembaga umat yang tradisional maupun yang modern untuk melaksanakannya dengan program yang matang. SDM yang berkualitas atau suputra itu hanya akan dapat diwujudkan melalui pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan di luar sekolah. Upacara yadnya zaman Kali ini hendaknya dijadikan media untuk mengembangkan spiritualitas umat. Spiritual umat yang kuat ini sebagai sumber pendorong untuk memperhatikan nasib orang lain.
Memperhatikan nasib orang lain dengan memberi Daana Punia sesuai dengan keadaannya orang tersebut. Yang penting dengan Daana Punia itu orang tersebut meningkat menjadi SDM yang lebih baik. Kalau ia seorang yang masih dalam tahapan hidup Brahmacari serta memiliki kadar kecerdasan yang baik patut didorong dengan Daana Punia dalam bentuk biaya pendidikan. Hal itu pun diberikan kalau orangtuanya tergolong ekonomi lemah.
Kalau ada orang yang berbakat dalam bidang bisnis namun lemah permodalannya patut ia diberikan saran bagaimana cara mendapatkan modal serta mengembangkan bisnisnya dengan cara-cara bisnis yang benar. Jika ia seorang yang punya kelainan mental patut dibantu untuk membenahi mereka yang terkena gangguan mental tersebut. Konsep Daana Punia dalam arti luas dapat disosialisasikan dalam kegiatan upacara yadnya. Dengan demikian upacara yadnya itu menjadi wadah ajaran Susila dan Tattwanya Agama Hindu. * I Ketut Gobyah
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia, Sastra Bhagawad Gita menjelaskan, bahwa kita mestinya mencari Tuhan yang bersemayam di dalam hati. Disebutkan pula bahwa orang yang Kucintai ialah orang yang tidak mementingkan diri sendiri, melepaskan segala keterikatan, dan bersikap sama dalam suka dan duka. Hal ini sangat sulit bagi orang awam yang mencari kebenaran untuk mencapai keseimbangan seperti itu dan untuk melepaskan diri dari keterikatan serta rasa keakuan. Apalagi orang-orang yang sudah memasuki masa grehasta, hal ini hampir tidak mungkin. Mereka dapat memuja Tuhan melalui berbagai jenis pemujaan, namun sangat sulit bagi mereka untuk menghancurkan keakuan dan menghilangkan rasa individualitas.
Hal ini merupakan tantangan yang sedang kita hadapi sebagai umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Uraian berikut merupakan ilustrasi, bahwa bagaimana kita melihat dimensi keberadaan tentang agama Hindu secara umum. Sebagai agama yang amat tua, yang memiliki pandangan yang amat luas, dengan kondisi sosial budaya dan ekonomi yang masih dalam garis kemiskinan dengan latar belakang sejarah pertumbuhannya yang khas, umat Hindu benar-benar mendapatkan satu tantangan yang cukup serius dan besar.
Agama itu sendiri sudah merupakan satu ilmu tersendiri yang harus dipahami terlebih dahulu agar dapat diterapkan secara tepat guna, khususnya dalam proses membangun bangsa dan membangun masyarakat seutuhnya, sehingga pemahaman doktrin-doktrin ajaran agama Hindu perlu mendapat perhatian secara khusus. Kemajuan teknologi dan sains, yang dihadapi manusia merupakan satu tantangan tersendiri yang dihadapi oleh umat manusia sehingga tidak jarang manusia yang kurang menyadari penting artinya agama lebih meremehkan agama dari pada ilmu teknologi.
Karena itu timbul anggapan seakan-akan yang paling penting dalam pembangunan sains dan teknologi itu saja tentunya kurang tepat. Timbulnya anggapan seperti itu pada mulanya bersumber pada satu pengertian bahwa agama hanya bersifat mistik, yang hanya mendidik orang untuk hal-hal yang tidak praktis, hanya melakukan ritual, untuk berdoa dan berdiam diri atau meditasi tanpa melakukan aktifitas. Ini dilihat jika ajaran agama Hindu sebagai ajaran yang mengajarkan Nivrtha marga saja atau ajaran yang mengajarkan untuk mengenal moksa saja. Tetapi kenyataannya ajaran agama Hindu memperhatikan pula soal-soal duniawi, seperti soal keselamatan, soal politik, soal ekonomi, sosial budaya, pengobatan yang semuanya dilakukan dengan humanisme.
Sifat kepekaan agama itu perlu dengan catatan terarah, karena apabila tidak terarah, setiap kemajuan yang timbul dalam agama akan ditentang sendiri oleh umatnya. Dalam abad perkembangan sains dan teknologi, sudah selayaknya kalau pendalaman ajaran agama sudah diarahkan pada pola berpikir kearah pada reorientasi penghayatan ajaran agama itu sendiri dan melihat ajaran agama Hindu sebagai suatu ilmu kebijakan.
Kalau agama Hindu harus kita pelajari tidak hanya sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai ilmu, maka cara pendekatannyapun harus diarahkan sebagai satu ilmu yang dapat membantu manusia dalam mencapai tujuannya. Dari hasil penelitian para peneliti ada beberapa kesimpulan bahwa agama Hindu kalau dibahas secara mendalam dan meluas, membahas berbagai bidang ilmu, seperti:
Masalah alam semesta
Struktur dan bentuk materi
Makna dan kedudukan waktu
Sifat alam pikiran
Evolusi manusia
Sejarah manusia dilihat pada jangka waktu
Masalah hidup dan mati dan hidup setelah mati
Pengendalian pikiran dan badan jasmani
Pengendalian Panca Maha Bhuta
Pengetahuan politik dan ekonomi
Psikologi
Teori pengetahuan
Cara kerja
DLL
Dengan demikian, pada hakekatnya agama Hindu merupakan lebih dari sekedar beragama atau agama biasa dalam arti tradisional. Banyak ilmu yang masih perlu dan yang dapat kita pelajari dan kembangkan untuk dapat diabadikan bagi kepentingan pembangunan, sebagai bentuk pelayanan yang tulus dan ikhlas. *(070722)
MANTRAM Veda yang berjumlah 20.389 itu adalah sabda Tuhan. Untuk mendalaminya membutuhkan kondisi diri yang mantap lahir batin. Karena itu, mendalami mantram Veda membutuhkan suatu metode tertentu. Dalam kitab Vayu Purana 1.201 dan Sarasamuscaya 39 dinyatakan Itihasa dan Purana adalah media untuk mendaki menuju kesempurnaan Veda. Ramayana dan Mahabharata tergolong Itihasa. Jadi untuk mendalami isi Veda itu hendaknya dipahami terlebih dulu isi Itihasa dan Purana itu. Karena itu, di kalangan umat Hindu umumnya seperti di Bali ini cerita Ramayana dan Mahabharata dengan ajarannya lebih populer daripada mantram Veda. Jadi Ramayana dan Mahabharata adalah ''tangga'' menuju kesempurnaan Veda.
Dalam Manawa Dharmasastra II.6 dinyatakan tahapan untuk membumikan Veda Sruti. Dari Veda Sruti sabda Tuhan itu dijabarkan ke dalam kitab-kitab Dharmasastra. Selanjutnya Dharmasastra dijabarkan ke dalam sila (perilaku/tingkah laku) dan acara untuk mencapai kepuasan rohani atau atmanastusti. Sila itulah yang dituangkan ke dalam bentuk cerita Ramayana dan Mahabharata.
Itihasa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Jadi Itihasa itu adalah sejarah yang sungguh-sungguh terjadi.
Prof. Dr. Satya Vratsastri, guru besar bahasa Sansekerta di New Delhi University, menyatakan bahwa Itihasa adalah histori yang distorikan atau sejarah yang dikarya-sastrakan. Itihasa itu sejarah penerapan ajaran Veda dalam kehidupan individu dan sosial. Karena itu, dalam Manawa Dharmasastra III.232 dinyatakan agar ajaran Dharmasastra, Itihasa dan Purana itu diperdengarkan kepada para tamu yang hadir saat yadnya dilangsungkan. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa di Bali muncul tradisi pembacaan cerita Ramayana dan Mahabharata serta cerita-cerita Purana lainnya dalam setiap ada upacara yadnya.
Ramayana, Mahabharata dan juga Purana adalah sastra Veda. Artinya ajaran suci Veda itu dituangkan ke dalam bentuk Upadesa Kavya agar lebih mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Upadesa Kavya adalah karya sastra yang memuat ajaran-ajaran kerohanian yang bersumber dari Veda. Ramayana karya Resi Valmika disusun pada zaman Tretya, sedangkan Mahabharata disusun oleh Resi Wyasa pada zaman Dwapara. Hal ini dinyatakan oleh Vettamani dalam buku ''Puranic Encyclopaedia''.
Karya Resi Valmiki dan Resi Vyasa ini menyangkut segala aspek kehidupan. Karya Sastra Veda ini memiliki dimensi yang amat luas sehingga dapat memberikan kita inspirasi untuk terus berkreasi. Kreasi dibolehkan sepanjang untuk membawakan visi dan misi suci Veda. Karena dari Ramayana Valmiki misalnya dikembangkan di India Selatan menjadi Ravana Vada oleh sastrawan yang bernama Batti. Ravana Vada juga disebut Batti Kavya, artinya karyasastra oleh Batti. Meskipun judulnya tidak Ramayana, isi pokoknya tidak menyimpang dari babonnya yaitu Ramayana Valmiki.
Ravana Vada yang berbahasa Sansekerta itulah yang masuk ke Indonesia. Dari Ravana Vada inilah muncul kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuno. Di India Utara juga ada Ramayana oleh Tulsidas dan inilah yang sangat populer di India dewasa ini.
Itihasa dan Purana akan terus-menerus dan sangat menarik untuk didiskusikan. Di sanalah letak kelebihan kitab Itihasa dan Purana itu. Kalau hanya menampung pandangan satu arah dan dari satu kelompok saja mungkin Itihasa dan Purana itu tidak lagi dibicarakan orang di setiap zaman di seluruh dunia. Semua pendapat yang berbeda, bahkan tampaknya seperti bertentangan, akan tertampung dan terakomodasi serta tersublimasikan dalam Itihasa dan Purana itu. Ramayana dan Mahabharata dapat saja dikreasi sepanjang untuk memperkuat penerapan ajaran suci Veda. Kalau ia dikreasi berlawanan dengan babonnya tentunya harus dipersoalkan oleh umat Hindu karena ia Sastra Veda.
Sedangkan Veda itu kitab sucinya agama Hindu.
Mengkreasi Itihasa hendaknya tidak untuk ''memukul'' Veda.
Terakhir di-edit oleh goesdun; 01-10-2008 Pk. 03:58 PM.
Ahamkaram balamdarpam
kamam krodham ca samssritah
mam atmaparadehesu
pradvisanto bhyasuyakah. (Bhagawadgita XVI.18).
Maksudnya: Terlalu biasa dengan kesombongan, kekerasan, kebanggaan dan pengumbaran nafsu marah, mereka itu adalah orang jahat. Mereka itu sesungguhnya memandang rendah Tuhan yang memberikan jiwa pada tubuhnya sendiri dan pada tubuh orang lain.
PARA teroris yakin akan dirinya masuk sorga. Keyakinan seperti itu tentunya boleh-boleh saja. Tetapi menurut keyakinan agama Hindu, semua teroris itu dapat dipastikan masuk neraka. Mengapa demikian? Mereka itu membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan juga tidak dikenalnya sebagai musuh. Bahkan, ada yang seagama dan sebangsa dengan diri para teroris itu. Mereka itu melakukan apa yang disebut dalam budaya Bali agung pati kurang dosa. Artinya membunuh orang-orang yang tidak jelas apa dosanya. Apalagi pembunuhan itu dilakukan karena kesombongan, kebanggaan akan keyakinannya dan penuh dengan nafsu marah. Hal itu jelas suatu kejahatan yang penuh dosa tak berampun. Di samping berdosa kepada mereka yang dibunuhnya, juga berdosa pada Tuhan dan agama yang dianutnya juga kepada negara dan bangsanya.
Dalam Bhagawad Gita XVI.21 dinyatakan bahwa pintu neraka akan terbuka lebar bagi mereka yang melakukan kama, krodha dan lobha. Jadi, kesombongan, mengumbar nafsu marah sampai melakukan kekerasan dengan sengaja dan berencana membunuh orang dengan sembarangan, sangat jelas suatu kejahatan yang tiada berampun. Teroris itu membunuh orang secara membabi buta dengan memperbodoh mereka yang mau dijadikan alat untuk melakukan bom bunuh diri. Yakinlah tidak ada agama di dunia ini mengajarkan hal yang sesat seperti itu.
Dalam Slokantara 71 dinyatakan membakar rumah atau agnida dan sastraghna atau membunuh dengan alasan dendam dan kebencian adalah dua kejahatan yang tergolong dalam enam kejahatan yang disebut Sad Atatayi. Melakukan enam jenis kejahatan itu menurut ajaran agama Hindu tersebut dapat dipastikan akan masuk neraka. Apalagi teroris itu tidak saja membunuh mereka yang tidak jelas dosanya, juga membuat keluarga dan masyarakat luas tercekam derita. Ini menurut ajaran Hindu tergolong himsa karma, maksudnya membunuh orang yang tidak berdosa dengan cara menyiksa. Para teroris itu dapat digolongkan orang yang dalam keadaan wikalpa dan branta.
Dalam kitab Wrehaspati Tattwa 28 dinyatakan orang yang akan mendapatkan pahala sorga adalah mereka yang melakukan dharma dengan kesadaran budhi. Sedangkan mereka yang akan masuk neraka apabila melakukan adharma.
Wikalpa dan branta adalah sebagian dari wujud adharma. Wikalpa artinya mengharapkan sesuatu yang tidak jelas. Para teroris meyakini dirinya akan masuk sorga dengan membakar rumah dan membunuh orang yang tidak berdosa. Ini keyakinan yang sesat.
Perbuatan teroris itu juga menyengsarakan masyarakat luas dan mengkhianati negara dan bangsanya. Keyakinan masuk sorga dengan cara penuh dosa itu adalah suatu harapan berdasarkan keyakinan yang sangat kabur atau berdasarkan khayalan belaka.
Para teroris itu juga sedang menderita keadaan yang disebut branta. Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan branta itu adalah cara berpikir yang sangat keliru. Tuhan yang mahasuci itu tidak mungkin mensabdakan agama untuk membuat sesama manusia sengsara.
Para teroris itulah yang keliru memahami agama yang disabdakan oleh Tuhan. Karena itu ke depan perlu ada kerja sama antara para ahli agama dan ahli pendidik untuk meninjau kembali metodelogi pengajaran dan penerapan agama kepada masyarakat.
Sangat kita sayangkan mereka-mereka yang dijadikan martil bom bunuh diri itu umumnya generasi yang masih sangat produktif. Generasi yang masih memiliki masa depan yang cerah untuk melanjutkan cita-cita mulia agama membangun dunia yang damai, adil dan sejahtera. Sayang mereka terpeleset oleh indoktrinasi beragama dengan cara berpikir yang keliru. Metode pendekatan beragama memang keyakinan. Meskipun dasar beragama adalah keyakinan, unsur logika tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Manusia akan buta dan lumpuh kalau agama dan ilmu tidak disinergikan. Hal inilah menyebabkan Albert Einstain mengingatkan agar agama dan ilmu tidak dibuat berdikotomi. Keyakinan beragama dan berpikir logis harus saling memperkuat secara proporsional. Agama itu bukanlah Tuhan. Agama adalah media untuk mencapai Tuhan.
Untuk mencapai Tuhan menurut agama Hindu melalui jenjang. Jenjang itu adalah mengasihi alam, mengabdi pada sesama manusia dengan konsep punia dan jenjang yang tertinggi bhakti pada Tuhan. Inilah yang disebut Tri Paraartha. *Ketut Gobyah
MENGAMALKAN ajaran Veda menurut berbagai petunjuk sastra suci Hindu haruslah melalui proses tradisi.
Dalam Sarasamuscaya dinyatakan dengan istilah Vedaabyasa dan acara. Vedaabyasa artinya ajaran suci Veda itu harus diterapkan sampai menjadi kebiasaan hidup sehari-hari.
Acara berasal dari kata ''car'' artinya bergerak. Acara artinya langgeng, ajeg atau juga kebiasaan. Dengan demikian acara artinya upaya untuk melanggengkan ajaran cusi Veda tersebut dalam perilaku sehari-hari, baik dalam perilaku individu maupun dalam perilaku sosial. Karena itu, dalam Sarasamuscaya dinyatakan: Acara ngaran prawrtining kawarah linging Sang Hyang Aji. Artinya: Acara adalah pengamalan ajaran kitab suci Veda.
Untuk mencapai wujud tradisi itu maka Veda Sruti sabda Tuhan itu melalui suatu proses bertahap. Manawa Dharmasastra II/6 menyatakan bahwa proses penerapan Veda itu dari Veda Sruti dijabarkan lebih luas ke dalam kitab-kitab Smrti atau Dharmasastra. Dari Dharmasastra ini dijabarkan ke dalam kitab-kitab sila seperti kitab-kitab itihasa dan purana. Dalam kitab-kita itihasa dan purana itulah kita akan menjumpai berbagai sila atau tingkah laku. Ada sila yang patut dijadikan teladan dan ada juga sila yang tidak patut diteladani.
Segala jenis sila yang susila dan yang dursila dipentaskan dalam kitab itihasa dan purana. Selanjutnya silakan manusia mau memilih yang mana. Kalau memilih sila yang susila maka sorga pahalanya. Sebaliknya yang memilih sila yang dursila neraka sebagai pahalanya. Dari sila inilah ajaran suci Veda (agama Hindu) terus dilanjutkan ke dalam bentuk tradisi yang disebut acara. Acara selalu menekankan agar umat berusaha memilih sila yang susila dan menghindari sila yang dursila.
Tujuan mewujudkan ajaran agama Hindu ke dalam acara atau tradisi Hindu itu adalah untuk mencapai Atmanastusti. Istilah ini berasal dari kata ''atma'' dan ''tusta'' artinya kepuasan atman atau kepuasan rohani. Artinya tradisi agama Hindu itu bertujuan memberikan kepuasan rohani kepada umatnya. Jadinya acara itulah sesungguhnya tradisi atau adat dari agama Hindu untuk memberi kepuasan rohani kepada pemeluk Hindu. Yang melakukan proses itu dari Veda Sruti sabda Tuhan terus menjadi dharmasastra, sila dan acara adalah para resi dan pandita yang memang ahli pada ajaran Veda. Sedangkan yang mengamalkan adalah umat yang meyakini Veda itu sebagai sumber ajaran agama Hindu.
Bagaimana mengukur apakah tradisi itu sudah sesuai dengan konsep Manawa Dharmasastra tersebut atau tidak? Ukurannya adalah kepuasan rohani itu. Kalau proses pentradisian agama Hindu itu justru malahan memunculkan makin bergejolaknya hawa nafsu umat itu berarti bukan kesalahan ajaran agama Hindunya, tetapi yang salah adalah yang mengamalkan tradisi tersebut. Karena sangat jelas puncak pertradisian Veda Sruti itu bukan Visayatusti atau kepuasan hawa nafsu, tetapi Atmanastusti. Munculnya beberapa tradisi Hindu yang justru mengobarkan wisaya tusti atau semakin bergejolaknya hawa nafsu umat bukan sebagai tujuan tetapi sebagai suatu proses.
Kurang intesifnya fungsi kontrol pada proses tradisi beragama Hindu itu sebagai salah satu, sebab timbulnya perjalanan tradisi beragama Hindu itu menjadi semakin jauh dari konsep awalnya. Di samping itu, kurang luas dan dalamnya pemahaman sementara pemuka agama Hindu akan sosok ajaran Hindu tersebut. Karena dalam kurun waktu yang cukup lama pemimpin Hindu yang menjadi penuntun umat beragama Hindu ditentukan melalui keturunan.
Seharusnya mereka yang didudukkan sebagai pemimpin yang menuntut kehidupan beragama adalah mereka yang benar-benar dibuktikan sudah sangat paham akan ajaran Hindu yang seutuhnya.
Pelaksanaan beragama Hindu yang menyimpang dari inti ajarannya kalau sudah telanjur mentradisi tidak mudah untuk meluruskannya kembali.
Apalagi tradisi itu memberikan keuntungan sosial dan material kepada sementara pihak, tentunya lebih sulit untuk mengembalikannya pada ajaran yang benar.
Di samping itu, adalah kekaburan batin pada zaman Kali ini.
Umumnya manusia zaman Kali sangat sulit membedakan mana kepuasan rohani dan mana kepuasan akibat gejolak hawa nafsu. Apalagi di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak. Yang mahamutlak hanyalah Brahman.
Beberapa persoalan itulah yang menjadi penghalang untuk melakukan pembenahan pada tradisi Hindu agar kembali menjadi sumber pemberi kepuasan atman kepada umat penganut Hindu.
Tetapi dengan keyakinan yang kuat, tekun dan sabar bagaikan surya yang terus konsisten menguapkan air untuk menjadi mendung untuk menurunkan hujan.
Surya brata itu adalah saneh-saneh denira mengisep welana.
Artinya, dengan sabar dan tekun menguapkan air menjadi mendung. Mendung itulah yang akan memberi kesuburan pada bumi. Demikianlah dalam membenahi tradisi beragama Hindu sangat dibutuhkan ketekunan, kesungguhan dan kesadaran agar mampu terus-menerus memberikan kepuasan rohani pada umatnya.
Marilah kita benahi tradisi beragama Hindu yang masih ada justru sebagai pembangkit hawa nafsu seperti nafsu untuk bermusuhan, arogansi kelompok, mabuk-mabukan, berjudi, penyiksaan hewan, nafsu untuk membeda-bedakan harkat dan martabat dengan sesama, nafsu ingin menguasai dan seterusnya.
Aatmaanam rathinam viddhi, sariiram rathamtu.
Buddhim tu saaradem viddhi, manah pragram eva ca.
Indriani hayaa aahur visayaams tesu gocaraan
Aatmanendriya mano yuktam, bhoktety aahur mamiisinah.
(Katha Upanishad. I.3-4) Maksudnya: Ketahuilah Atman itu adalah tuannya kereta. Badan adalah kereta itu sendiri. Ketahuilah Budhi (kebijaksanaan) itu adalah kusir dan pikiran adalah tali kekangnya. Indria disebut bagaikan kuda. Sasaran indria adalah jalan. Atman dihubungkan dengan badan, indriya dan pikiran. Ialah yang menikmati. Demikian orang bijak menerangkannya.DALAM mantra Katha Upanishad ini adalah suatu pariabel yang mengandalkan diri manusia yang utuh bagaikan kereta yang lengkap. Dalam membangun diri, tidak ada satu unsur pun yang boleh diabaikan. Kereta itu akan dapat berjalan menuju tujuan yang dikehendaki oleh sang Penumpang, jika semua unsur kereta itu ada dalam keadaan normal dan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya.
Badan kereta diumpamakan bagaikan badan wadag. Kuda itu bagaikan indria. Tali kekang kuda bagaikan pikiran. Kusir kereta bagaikan kesadaran budhi. Idealnya badan kereta dalam keadaan tidak ada yang rusak atau keropos. Demikian juga kuda dalam keadaan sehat dan dapat dikendalikan. Tali kekang juga dalam keadaan kuat mengendalikan kuda. Kusirnya juga harus sehat lahir batin.
Kereta yang berkeadaan seperti itulah yang akan dapat membawa pemilik kereta sampai pada tujuan. Demikian juga diri manusia harus di manajemen dengan sebaik-baiknya. Dengan memanajemen diri secara seimbang, terpadu dan kontinu itu sebagai syarat awal membangun diri yang sehat dan tenang.
Dengan badan yang sehat dan jiwa yang tenang modal awal menemukan minat dan bakat. Dengan ketemunya minat dan bakat dikembangkan dengan manajemen diri yang kontinu mewujudkan keterampilan bahkan profesionalisme yang andal. Menggunakan ajaran Hindu sebagai konsep manajemeni diri dengan tepat kita bangun manusia berkualitas. Jadi, syarat utama membangun SDM menurut ajaran Hindu adalah membangun SDM yang sehat secara jasmani, tenang secara rohani dan memiliki profesionalisme yang andal.
Untuk itu, menyiapkan SDM tidak seperti menyiapkan sebuah mesin untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Manusia itu harus dididik dan dilatih dengan memotivasinya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang memiliki jiwa. Dalam Bhagawad Gita III.42 tersirat konsep membangun SDM yang berkualitas dengan manajemen diri yang bertahap.
Dalam Bhagawad Gita tersebut dinyatakan sempurnakanlah indriamu. Tetapi lebih sempurna dari indria adalah pikiran. Lebih sempurna dari pikiran adalah kesadaran budhi. Yang paling sempurna dan suci adalah Atman sebagai sumber hidup dalam diri.
Dalam Sloka Bhagawad Gita tersebut tergambar konsep manajemen diri yang terstruktur seperti halnya Katha Upanishad dalam kutipan di atas. Indria hendaknya dimanajemen agar sehat dapat berfungsi dengan baik dan patuh pada manah (pikiran) yang positif. Demikian juga pikiran harus selalu dilatih berproses logis untuk dapat menerima pencerahan kesadaran budhi.
Kalau manajemeni diri tersebut berhasil, hal itu yang dapat menjadi media mengekspresikan kesucian Atman. Kalau kesucian Atman dapat diekspresikan sampai tampil dalam wujud perilaku nyata maka perilaku itu akan selalu berada pada jalur dharma. Manajemen diri yang mampu mengekspresikan kesucian Atman dalam perilaku itulah sebagai SDM yang berkualitas.
Diri yang termanajemen dengan konsep sastra suci Hindu itu adalah diri yang mampu mewujudkan hidup yang sehat, tenang dan profesional untuk mengabdi pada sesama ciptaan Tuhan.
Mewujudkan konsep Hindu dalam manajemen diri itu sangat memerlukan ketetapan hati dan disiplin diri yang tinggi. Tanpa disiplin dan ketetapan hati, mustahil konsep itu akan dapat direalisasikan. Ibarat menanam pohon di musim kemarau. Harus tiap hari disiram dengan air yang cukup.
Berketetapan hati maksudnya dalam suatu proses perjuangan apa saja pasti banyak godaan atau hambatan yang akan dijumpai. Setiap godaan dan hambatan hendaknya dijadikan bumbu penyedap dalam perjuangan. Orang yang mudah putus asa atau mudah terkebur tidak akan berhasil dalam mewujudkan perjuangan.
Apalagi dalam memanajemen diri sungguh banyak liku-liku yang harus ditempuh dengan penuh perhitungan dan keyakinan. Dengan akal sehat dan keyakinan, Tuhan pasti memenangkan yang benar. Tanpa keyakinan yang kuat, maka manajemen diri itu akan mudah terseret arus sosial yang tidak terarah. Karena itu, manajemen diri (jana kerti) dan manajemen sosial (jagat kerti) harus seimbang. * I Ketut Gobyah
Filosofi Saput Poleng dalam Hipokrit Kehidupan Beragama
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beraneka ragam budaya dan tradisi masyarakat . Negara kita merupakan bangsa majemuk dengan penduduk sekitar 210 juta jiwa. Kebhinekaan memang merupakan kekayaan dan sumber kekuatan bangsa, namun harus kita akui bahwa kebhinekaan juga mengandung kerawanan jika kita tidak pandai menjaganya. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia semenjak berabad-abad yang lalu, bangsa kita pernah menjadi kelinci percobaan penjajah yang dengan mudahnya di adu domba. Dengan beragamnya dimensi sosial yang ada dan tumbuh berkembang di masyarakat menyebabkan semakin lebarnya jurang pemisah di antara segenap insan sosial. Akankah hal ini terulang kembali? Tentunya tidak bukan! Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan komunikasi dan hubungan pergaulan terhadap sesama. Pada tatanan ini akan terjadi proses pembaruan yang tidak mungkin dihindari. Dipertegas lagi bahwa Hyang Widhi yang Maha Pencipta tidak pernah menciptakan sesuatu yang sama. Mahluk ciptaan-Nya berupa manusia diwarnai dengan kemajemukan. Terlihat dari warna kulit, ras, suku, golongan, bangsa, bahasa, dan agama. Seseorang yang beragama Hindu, misalnya pasti akan bergaul dengan pemeluk agama yang lain. Proses ini merupakan hal yang wajar dan alami. Interaksi plurastik terjadi dan dapat dipastikan semua agama mengakuinya.
Dewasa ini kehidupan manusia dihadapkan pada permasalahan menyangkut hak asasi manusia, etnis, dan agama.. Kondisi ini menyebabkan panilaian terhadap manusia cenderung manganggap sesama manusia berbeda hanya karena perbedaan itu semua. Dalam hal ini kearifan umat Hindu menyodorkan solusi mencari jalan keluar memecahkan masalah tersebut.
Agar hipokrit (munafik sosial) kehidupan beragama tidak berlanjut, dituntut kesadaran semua pihak untuk dapat saling bertoleransi satu sama lain. Pendidikan merupakan faktor penting untuk menumbuhkan kesadaran itu. Mendidik dengan mengandalkan kata-kata saja tentu kurang menarik, karena itu diperlukan media pendidikan untuk menyampaikan pesan-pesan. Pesan dapat berupa nilai, yaitu suatu acuan yang digunakan untuk berpikir dan bertindak. Salah satu penerapannya ialah dengan memanfaatkan kearifan local dari falsafah Hindu yang ada di Bali, yaitu saput poleng sebagai medianya.
Saput poleng adalah selembar kain bercorak kotak-kotak dengan warna putih dan hitam seperti papan catur. Menurut tradisi ada tiga jenis saput poleng, antara lain meliputi saput poleng saput Rwa Bhineda, saput poleng Sudhamala, dan saput poleng Tridatu. Saput poleng Rwa Bhineda berwarna putih dan hitam. Warna gelap (hitam) dan terang (putih) merupakan suatu cerminan dari dharma dan adharma. Saput poleng Sudhamala berwarna putih, hitam, dan abu. Abu sebagai peralihan dari warna hitam dan putih yang mengantarai keduanya. Artinya menyelaraskan simfoni dharma dan adharma. Saput poleng Tridatu berwarna putih, hitam, dan merah. Merah merupakan simbol rajas keenergikan, hitam adalah tamas (kemalasan) dan putih simbol satwam (kebijaksanaan, kebaikan).
Saput poleng sebagai simbol masyarakat Hindu di Bali digunakan oleh para pecalang (perangkat keamanan), patung penjaga pintu gerbang, dililitkan pada kul-kul atau kentongan, dikenakan oleh balian atau pengobat tradisional, dihiaskan pada tokoh-tokoh ithiasa (Merdah, Tualen, Hanoman, dan Bima), dikenakan oleh dalang wayang kulit ketika melaksanakan pangruwatan atau penyucian, dililitkan pada tempat suci yang diyakini berfungsi sebagai penjaga. Pada intinya saput poleng digunakan sebagai simbol penjagaan.
Implementasi falsafah ini dapat memberikan kita sebuah cerminan yang terimplikasi terhadap kehidupan beragama. Warna putih yang secara umum merupakan suatu simbolik dari satwam yang secara umum merupakan suatu simbolik dari kekuatan dharma yang sudah sepatutnya memberikan cerminan kepada kita bahwa dalam hidup beragama kita harus memegang teguh prinsif dharma yang senantiasa memberikan kedamaian. Hal ini tercermin dari sikap toleransi untuk menghindari kemunafikan sosial (hipokrit sosial) yang ujung-ujungnya mengakibatkan perpecahan diantara kita semua. Dalam Rg. Veda X.191. 3-4 menyatakan bahwa pada hakekatnya semua manusia adalah bersaudara. Vasudaiva Kutumbakam, semua mahluk adalah bersaudara. Persaudaraan umat manusia ini disebabkan oleh satu asal dan kembalinya bagi setiap mahluk dan alam semesta, sama-sama menikmati kehidupan di karibaan bumi pertiwi tercinta, oleh karena itu Tuhan Yang Mahaesa, Sang Hyang Widhi mengamanatkan kepada kita untuk hidup dalam suasana damai penuh kebahagiaan dalam persaudaraan yang sejati.
Warna hitam merupakan simbolik dari tamas (kemalasan) yang merupakan kekuatan adharma yang senantiasa ada jika dharma ada dan ini merupakan suatu hukum ilahi yang senantiasa berjalan terus. Kekuatan adharma tidak sepatutnya disalah-kaprahkan, namun seharusnya kita mengontol diri kita agar tidak membuat suatu tindakan yang dapat memprovokasi orang lain.
Disamping itu pula, warna abu pada saput poleng memberikan suatu implemtnasi terhadap suatu penyelarasan antara kekuatan dharma dan adharma. Jadi sikap seperti ini merupakan suatu cerminan sikap toleransi kehidupan beragama yang memberikan keselarasan dari sisi baik dan buruk.
Warna merah merupakan simbol keenergikan (rajas) yang semestinya kita cerminkan terhadap semangat untuk membina kerukunan umat beragama. Bukannya semangat yang kita miliki dipergunakan untuk mengompori semua perbedaan yang akhirnya akan membakar dan membawa kita ke abu keharmonisan. Setiap permasalahan yang muncul bila semakin dikompor-kompori, maka akan semakin parah. Untuk itulah, keenergikan tersebut jangan sampai disalahgunakan dalam suatu hal yang tidak baik.
Seperti yang termuat Atharvaveda, XII.1. 45 dinyatakan : “Beberapa pengucapan bahasa yang berbeda-beda dan pemeluk agama yang berbeda-beda pula dan sesuai dengan keinginan. Mereka tinggal bersama di bumi pertiwi yang penuh keseimbangan tanpa banyak bergerak, seperti sapi yang selalu memberikan susunya kepada manusia. Demikian juga ibu pertiwi selalu memberi kebahagiaan melimpah pada semua umat manusia”. Terungkap juga dalam Weda Sruti : “Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki atma yang sama dan dapat malihat semua manusia sebagai saudaranya, orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan” (Yayurweda, 40.7). Kedua mantra tersebut dengan sangat gamblang menyatakan bahwa manusia hidup di lingkungan majemuk dapat tinggal dalam keharmonisan. Juga, memberikan kearifan pada umat dalam menyikapi persepsi manusia berbeda karena warna kulit, ras, etnis, dan agama adalah sebuah keluarga besar. Artinya tidak hanya satu agama yang diagungkan, dijayakan, tetapi semua agama dipandang sebagai kebenaran. Semua berhak hidup di bumi pertiwi ini. Kemajemukan tersebut seperti pelangi berwarna-warni ciptaan Tuhan.
Sangat indah dan menyejukkan sehingga mampu menumbuhkan kedamaian hati umat manusia. Kemajemukan tidak untuk dipertetangkan karena kemajemukan adalah keharmonisan dan keindahan, bukan kekacuan atau kesemrawutan. Spritualitas kearifan ini dalam diri manusia adalah sama. Di samping itu semua umat manusia berkeinginan hidup berdampingan secara damai di muka bumi pertiwi yang kita cinta ini. Jika spritualitas ini dapat dijalankan sebagai landasan berpikir dan pola tindakan, maka manusia akan melupakan perbedaan yang ada dan sekaligus tidak mempertentangkan perbedaan tersebut. Hal ini sangat relevan dan arif dalam kehidupan bangsa Indonesia yang sangat kental warna kemajemukan yang diwarnai oleh beragamnya kehidupan masyarakat.
Nilai-nilai filosofis yang demikian tinggi dalam saput poleng dapat dijadikan cermin dalam mempertahankan kerukunan kehidupan beragama. Hal tersebut perlu diterapkan agar kita semua terhindar dari hipokrit sosial yang dapat memecah belah kita semua. Keinginan (rajas) yang tak terbatas agar diimbangi sifat mengerem (tamas) serta dikontrol dengan kebijaksanaan (satwam). Keseimbangan rajas dan tamas yang didominasi satwam secara perlahan akan meningkatkan harkat kemanusiaan (Manawa) dan sifat keraksasaan (danawa) menuju sifat kedewataan (madawa). Dan semoga kita semua diberikan kedamaian… (*bddn.org)
Oleh : I Gede Mahendra Wijaya
Mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
Bookmarks