Pasang iklan disini, hub: 0878-35152000 ada promo khusus s/d 31 Mei 2013.


Halaman 11 dari 13 PertamaPertama ... 910111213 TerakhirTerakhir
Menampilkan hasil 151 s/d 165 dari 195

Thread: Pura dan Candi di Indonesia
Email Halaman Ini

Short URL:
  1. #151
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Pura Terate Bang

    Pemujaan Dewa Brahma di Pura Terate Bang

    Yasya sarve samarambhah
    kamasamkalpavarjitah]
    managnidagdhakarmanam
    tam ahuh panditam budhah

    (Bhagavad Gita, IV.19)

    Maksudnya:
    Orang yang berbuat dengan tidak mengharapkan hasilnya (niskama karma), perbuatan tersebut dilakukan karena dinyatakan oleh sinar ilmu pengetahuan (Jnyana Agni), orang yang demikian itu diberikan gelar pandita oleh orang-orang bijaksana.

    PELINGGIH Gedong di Pura Terate Bang adalah sebagai pelinggih utama. Di Pelinggih Gedong ini sebagai media pemujaan Batara Brahma manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta. Dewa Brahma adalah Dewa pertama dari Dewa Tri Murti manifestasi Tuhan dalam tiga fungsinya. Dewa Brahma dalam sistem pantheon Hindu adalah manifestasi Tuhan sebagai pencipta yang disebut Utpati.

    Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan pelindung ciptaan Tuhan dan Dewa Iswara sebagai pamralina atau yang mengakhiri segala ciptaan Tuhan. Pura Terate Bang di Desa Pakraman Bukit Catu Desa Candikuning di Kecamatan Baturiti ini menggunakan warna serba merah untuk berbagai perlengkapan pura. Warna merah ini simbol Brahma.

    Pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma adalah pemujaan Tuhan sebagai pencipta agni. Karena dari agnilah sebagai awal terciptanya seluruh alam ini beserta dengan isinya.

    Pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma tidak semata-mata karena Tuhan sebagai pencipta alam dengan segala isinya. Pemujaan Dewa Brahma memiliki makna yang lebih luas dari itu. Salah satu ciri hidup manusia adalah berdinamika dalam sistem Tri Kona.

    Hidup adalah untuk menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Hidup juga memelihara yang seyogianya dipelihara dan meniadakan sesuatu yang sepatutnya sudah waktunya ditiadakan. Untuk mengikuti proses hidup dengan siklus Tri Kona itu dengan baik dibutuhkan tuntunan spiritual yang mantap. Hal inilah yang menjadi latar belakang timbulnya pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti. Pura Terate Bang ini khusus untuk memuja Dewa Brahma untuk menguatkan motivasi spiritual dalam melakukan proses kreativitas dalam melakukan upaya penciptaan.

    Inti ajaran yang terkandung dalam kitab suci Weda sabda Tuhan itu adalah Sanatana Dharma yaitu kebenaran yang kekal abadi. Tetapi pengamalannya selalu melalui proses Nutana. Artinya, selalu diremajakan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena dalam proses membangun tradisi Weda itu selalu didasarkan pada lima dasar pertimbangan yaitu Iksha, Sakti, Desa, Kala tetapi tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau Sanatana Dharma itu sendiri.

    Iksha artinya pandangan masyarakat yang berbeda-beda dari zaman ke zaman atau dari satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Sakti artinya kemampuan. Kemampuan manusia itu berbeda-beda juga satu dengan yang lainnya. Desa artinya tuntunan rohani yang berlaku dalam suatu lingkungan pemukiman juga berbeda-beda. Kala artinya waktu itu berbeda-beda. Ada zaman Kerta, Treta, Dwapara dan Kali Yuga. Ada waktu pagi, siang dan malam yang disebut Satvika Kala, Rajasika Kala dan Tamasika Kala.

    Demikian pula jenis manusia yang hidup di bumi ini sangat beraneka ragam. Oleh karena itu amat dibutuhkan kreativitas yang amat tinggi dan dinamis dalam melakukan upaya penciptaan. Tanpa demikian maka Sanatana Dharma atau kebenaran abadi intisari kitab suci Weda tidak akan merata teramalkan dalam menuntun hidup umat manusia yang meyakininya.

    Untuk membangun manusia yang kreatif dalam menciptakan berbagai hal untuk mengamalkan intisari Weda itulah dibutuhkan pemujaan Dewa Brahma. Pura Terate Bang ini salah satu pura sebagai media memuja Dewa Brahma baik sebagai Dewa Agni maupun sebagai Tuhan Maha Pencipta. Sebagai Dewa Agni, Dewa Brahma sumber inspirasi membangun semangat hidup untuk terus berkreasi menciptakan berbagai hal sehingga terjadi berbagai inovasi positif dalam mengamalkan Sanatana Dharma tersebut.

    Inovasi akan selalu membawa dampak positif apabila inovasi itu berdasarkan ilmu pengetahuan. Karena itu Dewa Brahma saktinya Dewi Saraswati yaitu dewinya ilmu pengetahuan. Mengapa Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan dalam bidang ilmu pengetahuan? Karena ilmu pengetahuan itu dapat membuat manusia mabuk.
    Mendapatkan ilmu dan mengamalkan ilmu hendaknya disertai dengan rasa Ketuhanan yang kuat.

    Untuk itulah umat Hindu memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati. Mahatma Gandi menyatakan ilmu tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial. Pemujaan Dewa Brahma dengan Dewi Saraswati agar manusia terus berkreasi menciptakan sesuatu yang patut diciptakan untuk menguatkan pengamalan Sanatana Dharma.

    Di samping itu pemujaan Dewa Brahma dengan Dewi Saraswati untuk menjaga kreativitas itu dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan sehingga kreasi itu selalu ilmiah, logis dan senantiasa mengacu pada sumber sastranya dalam pustaka suci. Kreasi tidaklah sembarang kreasi untuk sekadar berubah. Kreasi untuk menguatkan tradisi yang bersumber dari visi dan misi kitab suci.

    Manawa Dharmasastra XII,95 menyatakan bahwa tradisi yang tidak berdasarkan ajaran suci atau kitab suci akan membawa masyarakat pada kehidupan yang gelap. Ilmu pengetahuan yang disebut Jnyana Agni dalam Bhagawad Gita IV, 19 itu. Hidup yang disinari oleh apinya ilmu pengetahuan (Jnyana Agni) itu akan menjadikan orang untuk aktif berbuat tetapi sepinya pamerih. Perbuatan dengan sepiing pamerih itu tidak mementingkan hasil dalam berbuat. Orang yang jiwanya sudah disinari oleh Jnyana Agni itu amat yakin akan ajaran Karmaphala itu.

    Setiap perbuatan akan membawa hasil. Berbuat baik hasilnya pasti baik. Berbuat buruk pasti hasilnya buruk. Kedalaman dan keluasan dimensi ajaran Karmaphala ini sudah amat diyakini. Untuk apa memikirkan hasil karena hasil itu sudah ada dalam setiap perbuatan. Karena itu yang wajib dipikirkan dalam berbuat adalah mengupayakan akar selalu dapat berbuat baik dan benar.

    Dalam perbuatan baik, benar dan tepat itulah terdapat hasil yang baik, benar dan tepat itu. Kalau tidak yakin akan hukum Karmaphala, orang akan selalu ragu dalam berbuat, karena antara berbuat dan hasilnya membuat manusia tidak konsentrasi dalam berbuat baik, benar dan tepat. Karena itu ajaran Hindu dalam berbagai pustakanya mengajarkan akan orang hanya memikirkan berbuat baik, benar dan tepat. * I Ketut Gobyah

  2. #152
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Pembangunan Pura pertama di Eropa

    Pada hari raya Kuningan yang jatuh pada tangggal 30 Agustus 2008 yang lalu, umat Hindu Indonesia di Jerman merayakannya secara bersama di Hamburg. Upacara sembahyang dipimpin oleh Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, yang datang dari Bali beberapa hari sebelumnya.

    Pada hari Kuningan ini, umat Hindu berdatangan dari segala pelosok negara Jerman, dan bahkan ada yang menempuh jarak 800 km untuk menghadiri hari istimewa ini. Para anggota Nyama Braya Bali membagi tugasnya secara komunal seperti layaknya di Bali. Pembagian tugas dari pembuatan upakara yang dipimpin oleh Nyoman Sukayahadi hingga memimpin Gamelan oleh I Wayan Pica. Semua pihak sibuk berhari-hari untuk menyukseskan acara ini.

    Pada kesempatan ini, Bhagawan Dwija memberikan wejangan tentang Tri Hita Karana, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama , dan dengan Alam. Selain itu sebagai pembimbing Rohani umat Hindu di Jerman, Bhagawan Dwija juga memberi pesan kepada umat Hindu asal Indonesia, agar berterimakasih kepada negara Jerman, dan dapat melanjutkan hubungan baik yang telah ada. Juga menghimbau pada orang Jerman yang banyak hadir di upacara itu, agar dapat diterima sebagai saudara sendiri, sehingga dapat terjalin hubungan persaudaraan di perantauan walau berbeda bangsa.

    Selain memimpin upacara hari Kuningan ini, kedatangan Bhagawan Dwija juga untuk melaksanakan upacara „ menanam pedagingan“ suatu upacara dalam rangka perletakan batu pertama pembangunan Pura di Eropa. Pemerintah kota Hamburg melalui Museum für Völkerkunde telah mengijinkan Pura ini dibangun di depan gedung museum yang megah.

    Sebelum inisiatif ini, umat Hindu Bali/ Indonesia belum memiliki bangunan suci. Oleh karena itu merasa sangat terharu dan berterimakasih karena tempat suci dalam bentuk Pura Jagad (umum) yang belum pernah ada di benua Eropa, dapat diwujudkan di Hamburg.

    Pura ini bisa diraih dengan adanya kerjasama yang baik dari pihak museum di Hamburg, dengan Bali selama bertahun tahun. Selain Pura ini, sejak tahun 2004 museum ini memiliki pameran tetap yang besar dengan tema Bali. Pembiayaan pembangunan Pura ini didanai oleh seorang sponsor Jerman yang tak bersedia disebutkan namanya, yang belum pernah ke Bali tetapi merasa memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan Bali.

    Perjuangan dan kerja keras masyarakat Indonesia, khususnya Bali ini di pelopori oleh Luh Gde Wirahmini, yang dengan kerja kerasnya, dengan kegigihan hati semua umat. Akhirnya keinginan ini semakin dekat menjadi kenyataan. Pembangunan Pura ini akan memakan waktu kira-kira setahun, yang dipimpin oleh Undagi I Nyoman Arthana
    (Nyama Braya Bali di Jerman)

    Info selengkapnya : http://kemoning.info/blogsp=670

  3. #153
    IndoForum Beginner A JakaLoco's Avatar
    No. Urut
    32045
    Bergabung
    Jan 2008
    Lokasi
    Under Pressure
    Post
    1,188
    Rep Power
    2
    Quote Originally Posted by goesdun View Post
    Pada hari raya Kuningan yang jatuh pada tangggal 30 Agustus 2008 yang lalu, umat Hindu Indonesia di Jerman merayakannya secara bersama di Hamburg. Upacara sembahyang dipimpin oleh Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, yang datang dari Bali beberapa hari sebelumnya.

    Pada hari Kuningan ini, umat Hindu berdatangan dari segala pelosok negara Jerman, dan bahkan ada yang menempuh jarak 800 km untuk menghadiri hari istimewa ini. Para anggota Nyama Braya Bali membagi tugasnya secara komunal seperti layaknya di Bali. Pembagian tugas dari pembuatan upakara yang dipimpin oleh Nyoman Sukayahadi hingga memimpin Gamelan oleh I Wayan Pica. Semua pihak sibuk berhari-hari untuk menyukseskan acara ini.

    Pada kesempatan ini, Bhagawan Dwija memberikan wejangan tentang Tri Hita Karana, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama , dan dengan Alam. Selain itu sebagai pembimbing Rohani umat Hindu di Jerman, Bhagawan Dwija juga memberi pesan kepada umat Hindu asal Indonesia, agar berterimakasih kepada negara Jerman, dan dapat melanjutkan hubungan baik yang telah ada. Juga menghimbau pada orang Jerman yang banyak hadir di upacara itu, agar dapat diterima sebagai saudara sendiri, sehingga dapat terjalin hubungan persaudaraan di perantauan walau berbeda bangsa.

    Selain memimpin upacara hari Kuningan ini, kedatangan Bhagawan Dwija juga untuk melaksanakan upacara „ menanam pedagingan“ suatu upacara dalam rangka perletakan batu pertama pembangunan Pura di Eropa. Pemerintah kota Hamburg melalui Museum für Völkerkunde telah mengijinkan Pura ini dibangun di depan gedung museum yang megah.

    Sebelum inisiatif ini, umat Hindu Bali/ Indonesia belum memiliki bangunan suci. Oleh karena itu merasa sangat terharu dan berterimakasih karena tempat suci dalam bentuk Pura Jagad (umum) yang belum pernah ada di benua Eropa, dapat diwujudkan di Hamburg.

    Pura ini bisa diraih dengan adanya kerjasama yang baik dari pihak museum di Hamburg, dengan Bali selama bertahun tahun. Selain Pura ini, sejak tahun 2004 museum ini memiliki pameran tetap yang besar dengan tema Bali. Pembiayaan pembangunan Pura ini didanai oleh seorang sponsor Jerman yang tak bersedia disebutkan namanya, yang belum pernah ke Bali tetapi merasa memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan Bali.

    Perjuangan dan kerja keras masyarakat Indonesia, khususnya Bali ini di pelopori oleh Luh Gde Wirahmini, yang dengan kerja kerasnya, dengan kegigihan hati semua umat. Akhirnya keinginan ini semakin dekat menjadi kenyataan. Pembangunan Pura ini akan memakan waktu kira-kira setahun, yang dipimpin oleh Undagi I Nyoman Arthana
    (Nyama Braya Bali di Jerman)
    Wah Hindu Bali go internasional...semoga umat Hindu di sana tetep menjaga toleransi supaya gak diusir hahaha..tunjukkan keluhuran ajaran agama kita!

  4. #154
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Pura Tegeh Koripan


    Konsep ''Punden Berundak'' di Bukit Penulisan
    Ungkapan Citra Gunung Suci, Orientasi Ritual Masyarakat Bali Kuna


    Dalam prasasti Bali Kuna, Bukit Penulisan disebut dengan nama Bukit Tunggal. Di atas bukit ini terdapat Pura Tegeh Koripan yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-9. Keberadaan Pura Tegeh Koripan ini memperlihatkan tempat suci yang menerapkan konsep asli bangsa Indonesia, yaitu konsep "punden berundak". Dalam konsep ini, sebuah tempat suci ditempatkan di puncak ketinggian gunung atau perbukitan, yang harus dilalui melalui jalan yang bertingkat atau teras-teras. Bagaimana sesungguhnya konsep pembangunan tempat suci di pegunungan seperti ini? Benarkah konsep seperti ini bukan hanya monopoli "karya-karya" suku bangsa di Nusantara?

    BUKIT Penulisan berada pada ketinggian 1745 meter di atas permukaan laut. Bukit ini merupakan salah satu puncak pegunungan yang membentang di tengah-tengah pulau Bali, tetapi terpisah dan menyendiri dari deretan pegunungan tersebut. Bukit ini letaknya 6 km di sebelah utara Kintamani, atau sekitar 74 km dari Kota Denpasar dan berada di sisi timur jalur jalan Denpasar - Singaraja.

    Di dalam prasasti Bali Kuna, Bukit Penulisan disebut dengan nama Bukit Tunggal. Di atas bukit inilah terdapat Pura Tegeh Koripan yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-9. Pengemong pura ini adalah masyarakat Desa Adat Sukawana. Di dalam komplek Pura Tegeh Koripan ini terdapat tempat suci bernama Pura Ratu Daha Tua dan Pura Panarajon. Di kalangan ahli sejarah Bali Kuna, keberadaan pura ini sangat penting karena banyak menyimpan arca, terutama arca raja-raja Bali kuna.

    Ketika melakukan ekspedisi militer ke Bali saat menaklukkan kerajaan Bali Kuna (1343), Mahapatih Gajah Mada juga sempat melakukan tirtha yatra di Panarajon. Dan dari hasil penelitian Ketut Ginarsa (Balai Penelitian Bahasa), diketahuilah bahwa di Pura Tegeh Koripan ini pernah dilakukan upacara Srada oleh Raja Dalem Ketut Ngulesir pada tanggal 4 Maret 1430 bagi arwah Raja Sri Astasuraratnabumibhanten, raja Bali Kuna terakhir yang ditaklukkan oleh Majapahit. Kemudian juga dibuatkan patung peringatan dalam wujud patung Bhatara Guru sebagai penghormatan bagi Raja Astasuraratnabumibhanten di Pura Panarajon. Hal ini dilakukan oleh Dalem Ketut Ngulesir demi kepentingan Kerajaan Gelgel, agar penduduk Bali Aga tidak lagi melakukan pemberontakan akibat ketidak-puasan terhadap perwakilan Majapahit di Bali.

    Konsep Asli
    Keberadaan Pura Tegeh Koripan ini memperlihatkan tempat suci yang menerapkan konsep asli bangsa Indonesia, yaitu konsep "punden berundak". Dalam konsep ini, sebuah tempat suci ditempatkan di puncak ketinggian gunung atau perbukitan, yang harus dilalui melalui jalan yang bertingkat atau teras-teras. Pembangunan tempat suci di pegunungan, sebenarnya bukan hanya monopoli suku-suku bangsa di Nusantara, tetapi juga dilakukan oleh suku-suku bangsa lain di zaman purba. Seperti bangsa Yunani membangun kuil di pegunungan Olimpia, bangsa Mesopotamia (Irak Purba) membangun Zigurat di tanah yang tinggi, bahkan yang menakjubkan adalah suku Bangsa Inka di Manchu (Peru) membangun sebuah pemukiman di puncak gunung yang tinggi. Di samping karena alasan keamanan, pembangunan pemukiman di pegunungan yang tinggi sangat terkait dengan penghayatan religius mereka, yang menempatkan gunung sebagai tempat suci tempat tinggal para dewa.

    Karena itulah, untuk mencapai Pura Tegeh Koripan di Bukit Penulisan, orang harus melalui beberapa tingkatan teras atau plasa kecil, agar umat yang datang bisa beristirahat dan menarik nafas panjang setelah mendaki perbukitan, sambil menikmati panorama alam hutan pinus. Pura Tegeh Koripan ini memiliki 11 tingkatan halaman atau teras yang harus dilalui melalui beberapa anak tangga terjal. Pada tingkat atau teras ke-6 terdapat Pura Ratu Daha Tua dan pada tingkat atau teras ke-11 terdapat Pura Panarajon yang merupakan puncak Bukit Penulisan. Dari atas puncak Bukit Penulisan, orang akan dapat melihat panorama alam secara bebas di sekitar Kintamani yang memiliki hutan pinus atau panorama alam Danau Batur. Pada saat-saat tertentu, kabut tipis atau tebal sering menyelimuti puncak bukit ini.

    Di komplek Pura Panarajon yang ada di puncak Bukit Penulisan inilah akan bisa dilihat sejumlah arca Bali Kuna yang dibuat antara abad ke-10 hingga abad ke-14. Arca-arca ini sebagian dari bahan batu cadas, sebagian ada juga terbuat dari tanah liat. Tulisan-tulisan yang ada di belakang patung atau arca batu tersebut sangat membantu dalam memberi petunjuk data kesejahteraan penting Bali Kuna. Dari bentuk patung dan tulisan-tulisan di balik patung tersebut diketahuilah patung perwujudan Sri Astasuraratnabhumibanten, raja Bali Kuna terakhir yang sangat disegani. Di area pura ini juga diketahui ada patung Raja Jayapangus dan patung Raja Udayana yang berpasangan dengan permaisurinya, yang dibuat oleh Mpu Bega pada abad ke-11.

    Gunung Suci
    Pura Tegeh Koripan yang ada di Bukit Penulisan, Kintamani - Bangli, dapat dikatakan sebagai Pura Gunung yang menjadi orientasi religi bagi penduduk di zaman kerajaan Bali Kuna. Sehingga di bukit inilah sejumlah raja-raja Bali Kuna di-arca-kan, sebagai "dewa pegunungan" yang sangat dihormati masyarakat Bali Kuna. Sedangkan Pura Pusering Jagat di Desa Pejeng (Gianyar) diperkirakan sebagai pura kerajaan di zaman Bali Kuna.

    Pura Pusering Jagat yang memiliki makna sebagai pusar, pusat, atau sentral dari dunia di zaman Bali Kuna, bagaikan tali plasenta (ari-ari) yang berhubungan dengan ibu yang menyalurkan makanan bagi kehidupannya. Hal ini identik dengan hubungan manusia dengan Tuhan, yang secara geografis diidentikkan dengan hubungan manusia yang ada di dataran dengan dewa-dewi manifestasi Tuhan yang ada di pegunungan. Karena itulah Pura Tegeh Koripan yang namanya identik dengan tempat bagi kehidupan yang tinggi dalam arti religi, dapat dikatakan sebagai tempat suci berupa Pura Gunung dan menjadi orientasi religi bagi masyarakat di zaman Bali Kuna.

    Dalam kehidupan ini tidak semua tempat memiliki tata nilai yang sama, tetapi memiliki tata nilai hirarkis, dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Suatu wilayah diyakini memiliki wilayah energi dan kekuatan-kekuatan gaib dalam konsep ruang (mandala) dan waktunya. Karena itulah orang-orang pada zaman dulu, tata wilayah dan arsitekturnya tidak diutamakan bagi kepentingan estetika bangunannya, tetapi lebih ditekankan bagi kelangsungan hidupnya secara kosmis. Artinya, manusia dan arsitekturnya merupakan bagian dari kosmos atau alam semesta.

    Karena itulah pada zaman dulu orang-orang telah membagi dunia ini menjadi tiga lapisan (tri bhuwana). Dunia atas untuk para dewa, dunia tengah untuk kehidupan manusia dan dunia bawah untuk mahluk-mahluk lain. Dalam tata ruang wilayah, ada daerah pegunungan yang memiliki nilai suci, di wilayah dataran untuk area pemukiman, dan wilayah yang rendah untuk area pelayanan. Sedangkan dalam perwujudan arsitektur diwujudkan ke dalam bentuk atap sebagai kepala, badan bangunan dan pondasi sebagai kaki bangunan.

    Dengan demikian, pengembangan konsep "punden berundak" di Pura Tegeh Koripan dapat dipahami sebagai pengungkapan citra gunung suci yang menjadi orientasi ritual masyarakat Bali Kuna. Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa India di Himalaya, bangsa Yunani di pegunungan Olimpia, bangsa Iran di Haraberezaiti dan bangsa Palestina di Gerizim. *Gede Mugi Raharja
    source : BaliPost
    Terakhir di-edit oleh goesdun; 16-09-2008 Pk. 01:20 PM.

  5. #155
    IndoForum Newbie F
    No. Urut
    48692
    Bergabung
    Jul 2008
    Post
    28
    Rep Power
    0
    bos, bisa sedikit diberikan pencerahan mengenai Pura Taman Pule di Desa Mas.
    thanks sebelumnya...

  6. #156
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Pura Taman Pule - Gianyar



    Pura Taman Pule terletak di Desa Mas, Kabupaten Gianyar, Piodalannya setiap Saniscara Kliwon Kuningan bersamaan dengan hari Raya Kuningan.

    Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu di Bali merayakan hari raya KUNINGAN yg jatuh pada Saniscara Kliwon Kuningan. Inti hari raya Kuningan sama dengan Galungan sebagai hari kemenangan kebaikan atas kejahatan. Moment Kuningan lebih dipakai sebagai ajang untuk mengheningkan pikiran agar kebenaran kebaikan yg telah didapat bisa tetap langgeng dan bisa dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
    Pada Kuningan umat akan melakukan persembahyangan di pura kawitan atau pura keluarga masing-masing, kemudian persembahyangan dilanjutkan ke pura desa. Tua muda, laki perempuan, tidak ketinggalan anak-anak kecil pun dengan sukacita berpakaian adat Bali menuju ke pura.

    Bersamaan dengan perayaan Kuningan, pada hari tsb juga dilakukan piodalan Pura Taman Pule, yg merupakan pura Dang Khayangan, yaitu pura-pura yg dikategorikan sebagai pura luhur utama yg pernah disinggahi oleh para pendeta suci penyebar agama Hindu di Bali jaman dahulu.

    Pura Dang Khayangan adalah milik seluruh umat Hindu, siapapun berhak bersembahyang disana tanpa memandang garis keturunan, asal muasal ataupun profesi.

    Fondasi Pura Dang Khayangan yang ada di Bali dibangun berdasarkan sukat dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Maka bila terjadi permohonan sukat baru (misal karena pergeseran mandala) harus dimohonkan di Pura Taman Pule Mas, Gianyar yang melalui prosesi cukup sacral.

    Karena pura ini adalah parahyangan Dang Hyang Dwijendra, merupakan Pasraman Pedanda Sakti Wawu Rawuh, berfungsi sebagai penerang, pemberi pengetahuan bagi umat manusia.

    Danghyang Dwijendra sebagai pandita telah mengamalkan petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu tersebut sehingga beliau disebutkan Pedanda Sakti Wawu Rauh.

    Kata Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah memiliki banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu tersebut. Tidaklah seperti pemahaman kini di mana sakti itu dipahami mereka yang memiliki magic power yang berkonotasi negatif.

    Ilmu yang dimiliki itu adalah ilmu yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu adalah ilmu tentang kerohanian. Sedangkan Apara Widya adalah ilmu tentang keberadaan dan pengelola dunia ini dengan baik dan benar. Dua ilmu itulah yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia di dunia ini.

    Selama beliau di Desa Mas, beliau banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan baik dibidang agama, sosial, seni budaya dan lain-lainnya kepada Mas Wilis.

    Setelah Mas Wilis mendalami semua pelajaran dan pengetahuan yang diberikan, lalu diadakan pendiksaan oleh Pedanda Sakti Bawu Rauh dan ia diberi gelar Pangeran Manik Mas. Sebagai bukti bakti untuk menghormati jasa-jasanya, Pangeran Manik Mas membuat pesraman atau Geria dengan segala perlengkapannya untuk Pendanda Sakti Bawu Rauh.

    Demikian pula Pedanda Sakti Bawu Rauh untuk memperingati kejadian ini, (sebagai bukti), beliau menancapkan tongkat tangi (pohon tangi) yang masih hidup sampai sekarang yang terletak di jaba tengah Pura Taman Pule Mas. Sejak saat itu beliau memberi nama desa ini Desa Mas.

    Disamping itu Pangeran Manik Mas mempersembahkan putrinya yang bernama Ayu Kayuan (Mas Gumitir), dari perkawinannya dengan Mas Gumitir menurunkan Brahmana Mas yang tinggal di Desa Mas sekarang ini.

    Danghyang Dwijendra sendiri adalah keturunan dari Mpu Beradah.
    Mpu Geni Jaya, leluhur Maha Gotra Sanak Sapta Resi, itu adalah saudara dari Mpu Beradah. Secara logika keturunan Mpu Geni Jaya pun sesungguhnya Brahmana Wangsa.

    Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari India yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kediri.
    Kedatangan mereka ke Indonesia adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke Bali adalah:
    1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
    2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
    3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.

    Yang tinggal di Jawa adalah:
    1. Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan
    2. Mpu Genijaya.

    Berdasarkan babad Bendesa Mas, maka Pura Kawitan para Bendesa Mas adalah Pura Lempuyang Madia, bekas parhyangan Mpu Genijaya.
    Di samping itu pula nyungsung ke Pura Gading Wani (Lalanglinggah) dan Pura Taman Pule (Mas). Juga tidak boleh terlupakan Pura Çilayukti (Padang) dan Pura Dasar Bhuwana (Gelgel). *Goesdun
    Terakhir di-edit oleh goesdun; 29-09-2008 Pk. 03:28 PM.

  7. #157
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Candi Bumi Ayu - Sumatera Selatan



    Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Desa ini terletak kira-kira 300 KM dari kota Palembang.

    Bumi Ayu dikenal dengan situs candi-candi peninggalan Hindu dari aliran Siwaisme.

    Sampai saat ini sudah diketemukan 11 buah candi yang tersebar di wilayah seluas 76 HA perkebunan karet, yang dikelilingi oleh anak sungai Musi. Dari penggalian para arkeolog, maka komplek candi Bumi Ayu ini merupakan candi-candi Hindu terbesar di luar Jawa, dan dari penemuan tersimpul bahwa candi-candi ini merupakan tiruan Candi Prambanan di Jawa Tengah, didirikan pada tahun 819 Saka atau 897 Masehi.

    Usaha pelestarian ini telah dimulai pada tahun 1990 sampai sekarang, dengan didukung oleh dana APBN. Walaupun demikian peran serta Pemerintah Kabupaten Muara Enim cukup besar, antara lain Pembangunan Jalan, Pembebasan Tanah dan Pembangunan Gedung Museum Lapangan. Percandian Bumiayu meliputi lahan seluas 75,56 Ha, dengan batas terluar berupa 7 (tujuh) buah sungai parit yang sebagian sudah mengalami pendangkalan.

    Candi Bumi Ayu pada saat ini masih dalam proses pengkajian dan pemugaran, sehingga belum banyak informasi yang dapat diketahui, sedangkan informasi tertulis dari Candi tersebut masih dalam proses dipahami oleh Tim Pengkajian Peninggalan Purbakala Propinsi Sumatera Selatan.

    Pada situs Candi, terdapat beragam arca seperti Siwa Mahaguru, Nandi, Agastya dan Narawahana. Juga terdapat peti peripih dan komponen-komponen hiasan candi yang kental dengan simbol Hindu.

    Simbol Hindu pada bangunan candi terlihat pada komponen bangunan atapnya yang dinamai ratna.

    Pada beberapa arca seperti Siwa Mahadewa, Nandi dan Agastya, simbol Hindu diperlihatkan hiasan yang dinamakan buah keber.

  8. #158
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Kahyangan Tiga di Desa Pakraman



    YANG mengajarkan pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman adalah Mpu Kuturan kira-kira pada abad ke-11. Pada abad tersebut yang menjadi raja di Bali adalah Raja Udayana yang didampingi oleh permaisurinya dari Jawa bernama Mahendradatta dengan gelar Gunapriya Dharma Patni.

    Gagasan Mpu Kuturan mendirikan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman itu diperkirakan muncul saat ada pesamuan besar di Pura Samuan Tiga sekarang yang terletak di Desa Bedulu Kabupaten Gianyar. Ada berbagai pendapat tentang pesamuan agung tersebut. Ada yang menyatakan bahwa pesamuan di Samuan Tiga itu untuk menyatukan sekte-sekte Hindu yang pecah belah pada saat itu. Tetapi banyak guru besar arkeologi yang menyatakan tidak menjumpai bukti-bukti yang mengandung nilai sejarah yang menyatakan bahwa zaman tersebut sekte-sekte Hindu yang ada pecah belah.

    Raja Udayana dan permaisurinya saja saat itu beda sekte keagamaannya. Raja Udayana menganut Buddha Mahayana, sedangkan permaisurinya menganut sekte Siwa Pasupata. Pesamuan tersebut nampaknya untuk menetapkan kebijaksanaan dalam meningkatkan daya spiritual masyarakat Bali untuk membangun kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena pendirian Kahyang Tiga di setiap desa pakraman itu untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti sebagaimana dinyatakan dalam Pustaka Bhuana Kosa III. 76.

    Tuhanlah yang menciptakan (utpati), melindungi (sthiti) dan mempralayakan (pralaya atau pralina) semua ciptaan-Nya. Kemahakuasaan Tuhan untuk melakukan Utpati, Sthiti dan Pralina ini disebut Tri Kona (dengan lambang Lukisan Segi Tiga, lambang siclus Utpati, Sthiti, Pralina). Dengan pemujaan Tuhan Siwa sebagai Tri Murti mengandung dua konsep pembinaan kehidupan spiritual, yaitu konsep

    Tri Kona dan Tri Guna.
    Dalam Bhagawata Purana dinyatakan ada tiga kelompok Maha Purana. Ada Satvika Purana dengan Ista Dewatanya Dewa Wisnu. Ada Rajasika Purana dengan Dewa Brahma sebagai Ista Dewatanya dan ada Tamasika Purana dengan Dewa Siwa sebagai Ista Dewatanya. Dengan demikian Tri Murti menurut Bhagawata Purana adalah Brahma, Wisnu dan Siwa sebagai Guna Awatara. Artinya Tuhan-lah yang menjadi sumber pengendali tertinggi tiga dasar sifat manusia yang disebut Tri Guna itu.

    Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti di setiap desa pakraman di Bali sebagai media sakral untuk menerapkan konsep untuk menguatkan kehidupan spiritual. Penguatan kehidupan spiritual melalui penguatan sistem pemujaan pada Tuhan, agar umat hidupnya terarah dalam mengarungi dinamika kehidupan di dunia ini.

    Untuk mewujudkan empat tujuan hidup mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksha minimal ada dua konsep hidup yang harus dijadikan pegangan untuk mengarahkan dinamika hidup di tingkat desa pakraman.
    Dua konsep itu adalah Tri Kona dan Tri Guna.

    Dua konsep spiritual tersebut akan membina kehidupan di desa pakraman untuk menuntun umat mewujudkan empat tujuan hidup tersebut sesuai dengan tahapan hidup yang disebut Catur Asrama. Tri Kona sebagai kemahakuasaan Tuhan dijadikan sumber tuntunan tertinggi dalam melakukan tiga dinamika hidup tersebut. Artinya manusia hendaknya menjadikan konsep Tri Kona itu sebagai guide line dalam berperilaku mencipta (utpati), memelihara (sthiti) dan meniadakan (pralina) untuk menegakkan kehidupan yang benar, suci dan harmonis (Satyam, Siwam dan Sundharam).

    Ciri hidup yang baik dan benar itu adalah melakukan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Hal inilah yang disebut Utpati atau Sthiti.
    Selanjutnya kreatif untuk memelihara sesuatu yang sepatutnya dipelihara atau Utpati.

    Dalam kehidupan ini ada hal-hal yang memang seyogianya ditiadakan agar dinamika hidup ini dengan laju menuju kehidupan yang Jana Hita dan Jagat Hita.

    Jana Hita artinya kebahagiaan secara individu dan Jagat Hita adalah kebahagiaan secara bersama-sama.

    Inilah yang seyogianya yang dikembangkan oleh umat di desa pakraman.
    Melaksanakan ajaran Tri Kona tersebut tidaklah semudah teorinya. Karena itu dalam melakukan upaya penciptaan agar upaya tersebut benar-benar berguna dalam kehidupan ini membutuhkan tuntunan spiritual dengan memuja Batara Brahmana di Pura Desa sebagai unsur Kahyangan Tiga di desa pakraman.

    Demikian juga untuk memelihara dan melindungi sesuatu yang baik dan benar yang sepatutnya dilindungi tidaklah mudah.
    Melakukan upaya Sthiti ini juga dibutuhkan daya spiritual dengan memuja Tuhan sebagai Batara Wisnu.
    Dalam hidup juga banyak adanya sesuatu yang menghalangi proses hidup menuju dharma.
    Untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan juga membutuhkan daya spiritual yang kuat.
    Untuk menguatkan daya spiritual untuk melakukan Pralina itulah Tuhan dipuja sebagai Rudra atau Batara Siwa.

    Dinamika hidup dengan landansan Tri Kona inilah yang dapat menciptakan suasana hidup yang dinamis, harmonis dan produktif dalam arti spiritual dan material secara berkesinambungan.
    Dari konsep Tri Kona ini sesungguhnya dapat dikembangkan menjadi berbagai kebijakan di desa pakraman.

    Betapapun maju suatu zaman yakinlah dapat dikendalikan dengan konsep Tri Kona.

    Dengan konsep Tri Kona ini desa pakraman tidak akan pernah kehidupan jati dirinya sebagai lembaga umat Hindu khas Bali.
    Kemajuan zaman justru akan menguatkan jati diri kehidupan di desa pakraman.

    Karena itulah janganlah sembarangan mempertahankan adat-istiadat. Adat-istiadat itu buatan manusia sebagai sarana menjalankan ajaran agama. Ibarat kendaraan yang memiliki batas waktu.
    Ada saatnya sarana itu sedang baik karena baru, ada masa tuanya dan ada masanya berakhir.

    Ciptakan adat-istiadat yang dibutuhkan zaman, ada adat-istiadat yang masih baik dan benar agar terus dipelihara dan dipertahankan. Sedangkan adat-istiadat yang sudah usang ketinggalan zaman hendaknya ditinggalkan secara suka rela.

    Kalau adat-istiadat yang sudah usang karena bertentangan dengan kebenaran dan kemanusiaan agar ditinggalkan dengan cara-cara yang baik dan benar juga.

    Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di desa pakraman juga untuk membina tiga dasar sifat manusia yang disebut Tri Guna.

    Kalau komposisi Tri Guna tidak ideal maka dari Tri Guna itulah akan muncul sifat-sifat yang tidak sesuai dengan dharma.

    Dalam Wrehaspati Tattwa 21 dinyatakan bahwa Guna Sattwam dan Guna Rajah hendaknya seimbang menguasai Citta atau alam pikiran. Guna Sattwam menguatkan manusia untuk mengembangkan niat dan tekad mulia untuk berbuat baik berdasarkan dharma.

    Sedangkan Guna Rajah yang kuat seimbang dengan Guna Sattwam akan membangun kemampuan untuk mewujudkan niat dalam perbuatan nyata.

    Dalam sastra Hindu banyak sekali ajaran untuk membangun keseimbangan Guna Sattwam dan Guna Rajah.

    Pengamalan ajaran Hindu tersebutlah yang semestinya diprogramkan oleh desa pakraman dalam membina umat menjadi SDM yang baik.
    Terakhir di-edit oleh goesdun; 09-10-2008 Pk. 08:47 AM.

  9. #159
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Candi Jawarombo

    Jalan tanah berbatu menuju lereng selatan gunung itu sebenarnya dapat dilintasi kendaraan bermotor.

    Akan tetapi bila hujan jalan licin dan berlumpur dan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

    Perjalanan makin mendaki saat mendekati lokasi, hingga tampak sosok bangunan batu terlihat samar, diselimuti kabut dingin dan rimbunnya pepohonan.

    Penduduk setempat menyebutnya Candi Jawarombo, yang masuk wilayah Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

    Bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha itu ditemukan penduduk + tahun 1983 dalam keadaan terpendam tanah.

    Lokasi situs berada pada posisi 8§ 08' 50,9" Lintang Selatan dan 112§ 53' 21,05" Bujur Timur dengan ketinggian di atas 1.400 m dpl.

    Candi ini tinggal bagian batur (alas) berdenah bujur sangkar dengan ukuran 6 X 6 meter dan tinggi 60 cm.

    Pada lantai batur terdapat empat umpak batu yang berlubang bagian tengahnya untuk menegakkan tiang. Mungkin bangunan suci ini memakai tiang kayu dengan atap rumbia atau ijuk, karena tidak dijumpai pecahan-pecahan genteng di bawahnya.

    Profil kaki candi berupa pelipit setengah lingkaran dan segi empat.
    Keempat sisi batur dihiasi relief-relief yang menggambarkan teratai (lotus), pilaster, dan Tapak Dara.

    Pada sisi bangunan dihiasi oleh lima teratai, empat Tapak Dara dan 10 pilaster yang ditempatkan berselang-seling.

    Pahatan sosok manusia pada relief digambarkan seperti wayang, gaya pahatan seperti relief-relief bangunan candi masa akhir Majapahit.

    Ini bisa dilihat pada bangunan-bangunan di lereng G. Penanggungan, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

    Situs Candi Jawarombo menghadap puncak G. Mahameru / G. Semeru, gunung tertinggi di Jawa Timur.

    Pintu masuk candi ada di selatan dengan adanya sisa-sisa bangunan gapura dari batu.
    Dilokasi ini ditemukan arca batu yang memegang gada. Ini adalah cirri arca Dvarapala.

    Dvarapala merupakan arca yang ditempatkan di depan pintu atau gerbang menuju bangunan suci candi. Memiliki kekuasaan untuk melindungi dari berbagai serangan kekuatan jahat.
    Terakhir di-edit oleh goesdun; 06-11-2008 Pk. 04:15 PM.

  10. #160
    IndoForum Junior D ZhugeLiang's Avatar
    No. Urut
    34466
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    in ceremony
    Post
    1,950
    Catatan Blog
    3
    Rep Power
    4
    Wah jadi inget Baturaden nih bro...

    Pintunya rada mirip....

  11. #161
    IndoForum Senior A roughtorer's Avatar
    No. Urut
    44447
    Bergabung
    May 2008
    Lokasi
    Mexico
    Post
    6,755
    Catatan Blog
    41
    Rep Power
    16
    Bro Goesdoen, ada info tentang Candi Sukuh gak..... saya kok penasaran sekali. info yang gw kumpul di Education, belum menyentuh penjelasan spritualnya. Mungkin bertanya di sini yang tepat.

  12. #162
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9
    Quote Originally Posted by roughtorer View Post
    Bro Goesdoen, ada info tentang Candi Sukuh gak..... saya kok penasaran sekali. info yang gw kumpul di Education, belum menyentuh penjelasan spritualnya. Mungkin bertanya di sini yang tepat.
    info ada di thread ini : http://indoforum.org/showpost.php?p=699771&postcount=30

  13. #163
    IndoForum Senior A roughtorer's Avatar
    No. Urut
    44447
    Bergabung
    May 2008
    Lokasi
    Mexico
    Post
    6,755
    Catatan Blog
    41
    Rep Power
    16
    Terima kasih,

    Ada yang kurang bro.... sisi spritual nya... sepertinya naskah itu ditulis oleh ornag yang bukan Hindu....

  14. #164
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9
    Quote Originally Posted by roughtorer View Post
    Terima kasih,

    Ada yang kurang bro.... sisi spritual nya... sepertinya naskah itu ditulis oleh ornag yang bukan Hindu....
    ok, akan saya edit dari sumber lain.

    Candi Sukuh juga mengandung makna “ngruwat” yang tampak pada salah satu pragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala.

    Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa.

    Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya.

    Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma.

    Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”.

    Juga terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti, sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bangunan bentuk kura-kura menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.

  15. #165
    IndoForum Mod In Training goesdun's Avatar
    No. Urut
    32691
    Bergabung
    Feb 2008
    Lokasi
    Perbukitan Karst Jimbaran
    Post
    3,013
    Catatan Blog
    4
    Rep Power
    9

    Jejak Pura Puseh Penegil Dharma, Pusat Pengembangan Agama dan Pemerintahan

    Pura Penegil Dharma (PPD), nama dari sembilan pura yang terdapat di Desa Kubutambahan dan Desa Bulian, Kabupaten Buleleng. Pusat dari pusat pura itu adalah Pura Puseh Penegil Dharma atau dikenal dengan nama Pura Penyusuhan. Pura ini tidak pernah diketemukan tertulis pada prasasti-prasasti yang ada. Pura itu baru dikenal awal 1995, pada saat rombongan dosen Taknik Unud mengunjungi sebuah desa di kaki Gunung Raung, Banyuwangi. Di sebuah petilesan yang ada di sekitar Desa Alas Purwo itu, nama Pura Penegil Dharma yang terdapat di Gigir Manuk muncul sebagai sebuah pura yang harus dilestarikan. Apa dan bagaimana keistimewaan Pura Penegil Dharma itu, sehingga orang-orang spiritual banyak berkunjung ke sana? Apa filosofi pura dalam konteks kekinian? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung keberadaan pura tersebut?


    Menurut Klian Ulu Krama Pengemong Pura Penegil Dharma Prof. Drs. Putu Armaya, apabila diperhatikan secara seksama, bentuk Pulau menyerupai bentuk seekor itik dengan posisi kepala menghadap ke Barat. Punggungnya menghadap ke utara, ekornya menghadap ke Timur. Perut bagian bawah serta dada menghadap Samudera Hindia di selatan.

    Dari gambaran itu, di mana punggung menghadap ke utara, besar kemungkinan bahwa terjalin hubungan Pulau Bali dengan pusat-pusat budaya, baik yang bersifat lokal di nusantara, maupun yang hubungan internasional. Dicontohkan, hubungan dengan pusat budaya Cina, India, Mesir, Babilonia, Atena dan lain-lainnya dimulai dari Bali Utara.

    Dikatakan, jika meneropongnya dari sisi spiritual, pada punggung (gigir manuk), ada satu jalur penghubung sepanjang sumsum tulang belakang yang dikenal dengan istilah kundalini. Penjelasan secara spiritual itu lebih meyakinkan lagi bahwa Bali bagian Utara yang menggambarkan gigir manuk terdapat tempat-tempat suci yang punya nilai magis yang sangat tinggi.

    Di samping penjelasan itu, di Bali Utara juga dikenal dengan konsep Nyegara Gunung dengan ditemukan Pura Mutering Jagat di sepanjang pesisir utara Pulau Bali. Bila ditelusuri dari segi geografis, di daerah punggung yang menghadap ke utara Pulau Bali atau dikenal dengan istilah gigir manuk atau tulang geger yang nampak paling menonjol. Hal itu, tak ubahnya sebuah daerah yang menonjol ke laut yang merupakan Tanjung Utara Pulau Bali.

    Di daerah yang menonjol ini diduga terdapat sebuah laguna. Lokasi laguna diperkirakan kurang lebih 400 meter dari batas daratan yang ada sekarang. Dapat dibuktikan dengan keberadaan Barier yang ada serta perbedaan jenis tanah yang ada di sebelah utara jalan raya dengan jenis tanah di sebelah selatan jalan raya. Jenis tanah di sebelah utara jalan raya merupakan tanah endapan lumpur atau sidimentasi. Sedangkan jenis tanah di sebelah selatan jalan raya merupakan jenis tanah batuan.

    Uraian tentang jenis tanah membuktikan bahwa memang daerah tersebut merupakan danau yang sangat luas yang bermuara ke laut, sehingga disebut laguna. Tempat pertemuan laut dan danau itu sekarang merupakan Pura Negara Gambur Angelayang. Di tempat itu dulu merupakan pelabuhan dagang yang bernama Kuta Baning yang berarti Benteng Perang.

    Lebih lanjut dikatakan, Kuta Baning mempunyai arti sebagai berikut. Di atas merupakan sebuah tempat yang dikelilingi dengan benteng berfungsi sebagai pengamanan karena daerah tersebut merupakan pelabuhan dagang dan sebagai pusat perdagangan. Tempat ini sekarang sebagai salah satu pura pesanakan Padma Bhuana Kahyangan dengan nama Pura Negara Gambur Angelayang. Pura ini merupakan lambang di mana agama merupakan satu tujuan.

    Dikatakannya, di Kawista inilah -- bila diruntut sejarah -- dibangun istana, pusat pemerintahan dan pusat agama yang didirikan oleh Sri Ugra Sena Warmadewa yang juga bergelar Sri Kesari Warmadewa (secara etimologi kata ''Ugra'' sama dengan kata ''Kesari'' artinya sama-sama Singa). Istana tersebut sekarang ini dikenal dengan nama Pura Puseh Penegil Dharma.

    Sri Ugra Sena Warmadewa dikenal sebagai Sri Kesari Warmadewa saat beliau memimpin penyerangan daerah Suwal, Gerung atau Gurun yang dikenal sekarang dengan Sumbawa dan Lombok. Setelah membangun Kauripan bersama Mpu Sendok, Tabanendra Warmadewa membantu Ugrasena Warmadewa membangun Kawista. Istana beliau di tepi selatan Kawista, yang keberadaannya sekarang merupakan Pura Bukit Sinunggal. Tabanendra Warmadewa bertugas mengembangkan wilayah Tajun ke arah selatan sebagai sentra pertanian. Nama Tabanan diambil dari nama Tabanendra Warmadewa.

    Lebih lanjut dikatakan, pasca-Sri Kesari Warmadewa, daerah Kawista juga sempat dijadikan kembali sebagai istana. Di sana dipakai sebagai pusat pemerintahan dan pengembangan agama. Selain bernama Kawista, pusat pemerintahan tersebut juga dikenal dengan nama Banyu Buah dan Puseh Penegil Dharma, sebagi pusat dari Padma Bhuana Kahyangan.

    Nama Banyu Buah mempunyai arti ''berbuah di air''. Buah yang dimaksud adalah padi. Pada zaman pemerintahan Nara Singa Murti, sudah ada sistem subak untuk mengairi tanah pertanian (sawah). Subak yang pertama adalah Subak Tukad Dalem (tukad yang dibangun oleh Raja atau Dalem-red) yang masih bisa dilihat peninggalannya di sekitar Pura Penegil Dharma sekarang.

    Kembali ke kata Kawista. Menurut Armaya, kata Kawista mempunyai arti ''tanah yang suci''. Tanah sebelum campur tangan manusia memang sudah dititahkan oleh Tuhan, Sang Pencipta sebagai tempat yang suci. Di tempat tersebut akan dibangun tempat suci, sebagai perlambang bangkitnya jalan-jalan sinar yang menganugerahkan hari wisuda dari sebuah jiwa setelah melewati lahir kembali yang siklusnya berulang-ulang.

    Armaya mengatakan, di tempat suci merupakan pertanda dari kembalinya putra-putri sang Sinar yang berbaur dengan kita dalam wujud manusia yang terlahir lewat sang Illahi. Di pura tersebut akan dibuka segel buku sang Sinar yang lembaran-lembarannya direkatkan oleh tiap kepercayaan sebagai bahasa cinta kasih universal. Pusat Kawista yang menjadi Istana, pusat pemerintahan dan pusat agama, keberadaannya sekarang dikenal dengan nama Pura Puseh Penegil Dharma, berlokasi di Banyu Buah, Desa Kubutambahan. (sut)

    Struktur dan Arsitektur Pura Penegil Dharma

    PEMBANGUNAN tempat suci oleh Nara Singa Murti, mengikuti sistem ketatanegaraan pemerintahan di Kediri. Istana sebagai pusat pemerintahan juga pusat pengembangan agama. Raja sebagai kepala pemerintahan berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator makrokosmos. Menjalankan fungsi itu, Nara Singa Murti bergelar Parameswara Sri Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana.

    Menurut Klian Ulun Krama Pengemong Pura Penegil Dharma Prof. Drs. Armaya dan pengikut spiritual Suhandoyo dari Yogyakarta, Mahesa Cempaka atau Nara Singa Murti mempunyai banyak nama. Masing-masing gelar mempunyai arti. Maharaja Aji Jayapangus gelar yang diberikan di Jawa saat mengikuti pendidikan. Sedangkan Jaya Sakti, Jaya Raga, Jaya Den Jaya, gelar yang diberikan pada saat membebaskan Istana Kawista dari sarang perompak yang mengganggu alur perdagangan laut.

    Gelar Nara Singa Murti, gugusan bintang Leo atau bintang utara, sebagai pertanda tempat pemerintahan raja. Singa Murti, Singa Raja, Singa yang mengabdi pada Tuhan. Batara Guru, Nara Singa Murti mengembangkan agama, sehingga terjadi kolaborasi Ciwa, Budhda, Polenesia. Agama Hindu Bali yang sekarang memiliki konsep tiga kepercayaan di atas. Upacara tersebut dikenal dengan Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Kelurut, Tumpek Kandang, Tumpek Wayang.

    Dicontohkan Tumpek Landep. Makna tumpek ini terkait dengan hidup manusia. Manusia hidup menggunakan alat perjuang. Alat ini untuk mempermudah hidup seperti membuat alat teknik dan mengembangkan iptek. Umat makan untuk menjaga alat-alat tubuhnya berfungsi normal. Manusia pada saat itu tidak selalu tergantung pada benda. Berbeda dengan sekarang. Mereka lebih mengagung-agungkan benda dan berorientasi pada kekayaan materi.

    Lebih lanjut dikatakan, Batara Maha Guru, gelar yang dipakai setelah menyelesaikan pembangunan Padma Bhuana Kahyangan. Batara Dana Diraja, beliau juga mengembangkan perekonomian dan pelabuhan bernama Kuta Baning. Sekarang berada di Pura Negara Gambur Angelayang. Batara Parameswara Cri Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana. Nara Singa Murti mengemban tugas sebagai stabilisator dan dinamisator makrokosmos dan mengembangkan konsep Padma Bhuwana Kahyangan.

    Armaya mengatakan, padma berarti bunga teratai berdaun delapan. Masing-masing daun bunga berisi kekuatan suci. Di tengah daun berstana kekuatan Siwa. Pada bunga padma merupakan sembilan kekuatan suci. Padma Bhuana Kahyangan yang dibangun Nara Singa Murti berpusat di Pura Puseh Penegil Dharma. Padma Bhuana Kahyangan terdiri atas Pura Puseh Penegil Dharma, Negara Gambur Angelayang, Pingit, Meduwe Karang, Patih, dan Pura Dalem Puri. Selain itu, terdapat Pura Pande, Pura Sang Cempaka, dan Pura Candra Manik.

    Dikatakan, dari konsep Padma Bhuana Kahyangan itu, Penegil Dharma dikelilingi ke delapan pura pesanakan dikenal konsep Asta Dala (Siwa). Dalam mengembangkan konsep Padma Bhuana Kahyangan, ia dikenal dengan nama Asta Sura Sri Ratna Bumi Banten. Bila kedelapan pura yang mengelilingi Pura Penegil Dharma mengikuti konsep Asta Dala, lima pura yang berada di Puseh Penegil Dharma mengikuti konsep tapak dara (Buda).

    Lima pura di Puseh Penegil Dharma yang posisinya mengikuti konsep tapak dara. Pura Pucaking Giri, situs Karang Harum diperkirakan akarnya mencapai kedalaman 118 meter. Lokasinya di sebelah delatan merupakan tempat pemujaan Batara Parameswara Cri Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana. Tempat ini merupakan pusat pengembangan agama, beliau merupakan maharaja dan mahapandita.

    Pura Kepatihan Petengen Agung berada di sebelah utara. Tempat ini merupakan sekretaris negara, kalau dibandingkan dengan susunan kabinet pemerintahan sekarang. Pelinggih Ratu Gede Petengen Agung merupakan tempat departemen kesehatan dengan adanya pelinggih Ratu Gede Balian Sakti di pura itu.

    Konsep Nyegara Gunung

    Pura Mutering Jagat salah satu konsep Nyegara Gunung. Arti dari jagat adalah daratan. Mutering Jagat adalah laut. Tanpa adanya laut tak mungkin ada daratan. Berlokasi di sebelah timur. Di tempat ini distanakan putri dari Nara Singa Murti, adik tiri dari Ratu Bagus Mas Aji Sapelinggih (dari ibu yang berbeda-red).

    Pura Kertha Negara Mas berlokasi di sebelah barat, tempat istana Putra Nara Singa Murti yang bernama Ratu Bagus Mas Aji Sapelinggih, bergelar Asta Sura Cri Ratna Bumi Banten II yang merupakan Raja Bali terakhir sebelum Majapahit di Bali. Tempat ini dahulu berfungsi sebagai istana raja.

    Pura Kertha Pura di Tengah, di mana pada masa pemerintahan merupakan tempat penerapan penegakan hukum. Di tempat ini terdapat bangunan ''Bale Mudra Manik''. Sebuah bangunan tempat pesamuhan para raja-raja Nusantara. Di tempat ini distanakan cucu laki-laki yang bernama Ratu Ngurah Kertha Pura dan cucu perempuan Ratu Ayu Mas Gemulung pada Bale Mudra Manik yang diapit oleh pelinggih Ibunda Ratu Ayu Manik Mekolem (Ratu Ayu Solo) di sebelah kiri dan pelinggih Ratu Patih Sebali di sebelah kanan.

    Delapan pura pesanakan yang mengikuti konsep Asta Dala yakni Pura Pandita, di barat daya Pura Puseh Penegil Dharma, Desa Kubutambahan. Pura ini merupakan kompleks penasihat spiritual raja. Pura ini merupakan pesraman dari Resi Markandiya zaman pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. Pura Meduwe Karang, berada di Desa Kubutambahan dan dibangun oleh Wijaya Mahadewi.

    Pura Candra Manik dikenal pula dengan nama Pura Yeh Lesung di Desa Bulian. Pura ini istana darurat dari Sri Wijaya Mahadewi, pada saat Istana Kawista diserang oleh Wong Bajo. Saat yang bersamaan Punggawa Udayana menyerang Tampaksiring berkaitan dengan penganut sekte Bhairawa. Batara Indra yang kita tahu dari cerita berdirinya Pura Tirta Empul adalah Udayana. Saat itu diberikan gelar Indra Warmadewa. Di pura ini (Candri Manik) oleh masyarakat dipercaya adanya nama Dewi Suleca yang berstana.

    Suleca berasal dari kata ''Salu'' dan ''Ica''. Salu berarti sanggar agung berkaki pendek atau singgasana. Sedangkan Ica berarti anugerah. Dari kata raja yang berarti Kinasihaning Jawoto. Dengan kata lain Sri Wijaya Mahadewi merupakan kesayangan Tuhan. Atas anugerah beliaulah Sri Wijaya Mahadewi menjadi raja. Pura Negara Gambur Angelayang di Desa Kubutambahan merupakan pusat perdagangan yang dikelilingi oleh benteng yang disebut Kuta Baning. Dikatakan, tempat ini dipakai transaksi perdagangan dan terjadinya kolaborasi budaya dari pedagang Melayu, Cina, Babalonia, Pasundan, India, Atena, dan pedagang-pedagang dari belahan dunia lainnya. ''Namun, untuk membuktikan kebenaran sejarah itu, perlu ada pengkajian yang sangat mendalam,'' katanya.

    Menurut Armaya, pusat perdagangan ini di bawah pengawasan Ratu Ngurah Kertha Pura dibantu penasihat administrasi pabean. Sekarang dikenal dengan nama Ratu Gede atau Ayu Subandar. Beliau adalah salah seorang panglima saat dinasti Sung berkuasa di daratan Tiongkok yang diperbantukan untuk membantu Raja Nara Singa Murti mengelola pelabuhan dan administrasi pabean.

    Di pura ini terdapat pelinggih Ratu Agung Syah Bandar, Ratu Agung Melayu, Ratu Bagus Sundawan, Ratu Gede Dalem Mekah, Ratu Ayu Pasek, Ratu Gede Siwa, Batari Sri Dwijendra dan Ratu Ayu Mutering Jagat. Keberadaan pura ini sangat berjasa dalam pembinaan dan penerapan agama. Agama itulah merupakan satu tujuan. Tempat di mana agama dan penganut agama berkumpul dan bersatu.

    Pura Pingit di Desa Bulian. Sesuai dengan nama Pura Pingit, pura ini merupakan tempat melaksanakan pertapaan oleh Raja Nara Singa Murti. Sekarang dikenal dengan tempat penyimpanan prasasti (prasasti Bulian-red). Prasasti ini baru sebagian kecil saja bisa dibaca salinannya yang dikenal dengan nama prasasti Bulian A dengan nomor 633 dan prasati Bulian B dengan nomor 706.

    Masih dalam kompleks Pura Penegil Dharma. Di sana ada Pura Patih di Desa Kubutambahan merupakan istana tepi siring bagian barat. Pura Sang Cempaka di Desa Bulian merupakan benteng pemantau laut berlokasi pada dataran tinggi. Pura Penegil Dharma yang kini menjadi incaran orang-orang spiritual memang memiliki kekuatan dan pancaran Illahi. Menurut Jro Mangku Gde Made Astika, pura ini penuh dengan misteri. Pengalaman spiritual sejak menjadi pemangku sangat unik. Apa yang tidak pernah dibayangkan manusia, terjadi dan muncul di sekitar pura itu. (sut)

    Pura Penegil Dharma, Dalam Konteks Spiritual Modern

    DALAM konteks kekinian, Pura Puseh Penegil Dharma (PPPD) banyak menyedot perhatian banyak pihak. Mulai dari kalangan spiritual, sejarawan, arkeolog dan lain-lain. Salah seorang arkeolog itu adalah berkebangsaan Swis yakni Mr. Bruno Riek. Ia pernah mengunjungi Pura Puseh Penyusuhan Dharma dalam upaya mencari sebuah gugusan bintang. Tujuannya, membuktikan sebuah teori tentang makrokosmos dan mikrokosmos.

    Gugusan bintang yang dimaksud adalah gugusan bintang utara. Teori itu menyebutkan, tempat di mana gugusan bintang utara dapat dilihat dengan jelas, tempat di mana makrokosmos dan mikrokosmos benar-benar menyatu di daerah tersebut. Pendapat tersebut dikuatkan tokoh spiritual dari Benua Amerika, Elan dan Carrol. Kedua orang ini merasakan getaran-getaran energi illahi di lintas batas Pura Penegil Dharma tersebut.

    Elan dari Kanada beserta Carrol dari Amerika dalam bahasa spiritual mengandaikan, bahwa sebelum semua berawal, dan sesudah segalanya berakhir, tempat ini sudah terpilih sebagai temple. Pulau Bali menggambarkan inti dari cincin api dan temple ini sebagai titik tengah tempat di mana semua kepercayaan yang berbeda akan menyatu dan disucikan menuju suatu titik -- unsur Tuhan yang suci dan unsur murni dari yang satu yang membara dalam hati.

    Pandangan Elan dan Carrel mengingatkan pada nama Kawista yang mempunyai arti tanah yang suci. Temuan lain tentang Pura Puseh Penegil Dharma, dapat ditemukan pada World Matrix With Energy Centres. Dalam World Matrix With Energy Centres disebutkan, ''Tempat ini (di Pura Puseh Penegil Dharma-red) merupakan titik atau poin timur dari bola dunia. Titik barat ada pada Danau Titicaka di Puncak Gunung Titicaka di Peru''. Sebenarnya titik-titik tersebut, sesuai dengan isi bait-bait wargasari yang menyebutkan ...Betel Kangin, Betel Kauh. Maksudnya bahwa Bali merupakan Betel Kangin dan Danau Titicaka di Pucak Gunung Titicaka merupakan Betel Kauh.

    Seperti disebutkan pada peta itu, tempat ini merupakan titik timur dari bola dunia. Di mana titik barat berada di sebuah Danau Titicaka di Puncak Gunung Titicaka di Peru. Jika sekarang masih tersisa mata air yang ada di Permandian Air Sanih dan mata air yang berada di dalam Pura Penyusuhan, memang tempat ini dahulu kala merupakan danau atau laguna yang membentang dari Pura Dalem Puri Desa Kubutambahan sampai Permandian Air Sanih.

    Keberadaan laguna atau Danau itu memang disebutkan dalam beberapa prasasti dengan nama Er Madatu, Banyu Plasa atau Er Angga. Er Angga berasal dari Er Rangga. Rangga sama dengan pohon tenggulun. Tenggulun berasal dari kata ''tanggu ulu'' yang berarti tanduk menjangan. Jika dilihat saat ini, memang di sekitar Pura Puseh Penegil Dharma banyak ditemukan pohon tenggulun yang dimaksud. Dahannya menyerupai tanduk menjangan.

    Titik barat di mana danau tersebut berada di pucak Gunung Titicaka, maka titik timur berada di gunung keempat yang dimaksudkan adalah Pucaking Giri (Puncak Gunung). Sekarang merupakan nama salah satu pura yang berada di Pusat Pura Penyusuhan Penegil Dharma.

    Pendapat lain yang memperkuat arti spiritual Pura Puseh Penegil Dharma diungkapkan Mr. Jhon Barry, seorang koreografer dari Colorado. Mr. Jhon Barry. Setelah melakukan perjalanan ke negara Mesir (negeri Egip) untuk meneliti keberadaan piramida yang sangat termasyur, ia melanjutkan perjalanannya ke Bali untuk mencari Puncak Piramida yang diperkirakan berada di Pulau Bali.

    Dalam sebuah perayaan Natal 24 Desember 1998 lalu yang dilaksanakan oleh kelompok warga negara Italia yang ada di Pulau Bali, Jhon Barry mengikuti rombongan ikut merayakan Natal di Pura Puseh Penegil Dharma. Tanpa disadari, pura itulah yang dicari sebagai pucak piramida. Tempat itu dianggap sebagai pucak dari sebuah piramida. Menurut pandangan beberapa kelompok yang mendalami spiritual, tempat itu merupakan tempat yang universal.

    Dikunjungi Orang Spritual

    Tak heran, sejak awal 1996, Pura Puseh Penegil Dharma banyak dikunjungi oleh orang-orang yang senang melakukan perjalanan spiritual. Tak pelak lagi Presiden Megawati Soekarnoputri juga sempat ke sana. Jumlah pejabat di Bali juga banyak yang bermeditasi di pura itu. Para pendalam spiritual itu berasal dari Bali luar Bali, bahkan mancanegara. Banyak dari mereka yang memberikan pandangan pribadi mereka tentang keberadaan pura tersebut.

    Pandangan dan bahasa spiritual Elan O'Brien Carrol dari Kanada tentang keberadaan Pura Puseh Penegil Dharma seperti ini: ''Sebelum semuanya ada, dan setelah semuanya tiada, pura ini telah ditentukan sejak dahulu kala. Di saat kita semua berada dalam haribaan Yang Esa. Awalnya kita satu, kita adalah cinta kasih, kita adalah Tuhan itu sendiri''.

    Kita adalah bagian dari sang Roh Pencipta yang bersemayam di dalam diri kita semua. Kita sepakat untuk memainkan beragam peran. Kita sepakat melupakan intisari Tuhan yang bersemayam di dalam diri kita. Maksudnya, semua agar dapat berpencaran dan mewujudkan bentuk yang lebih agung dari intisari Tuhan yang bersemayam dalam segala yang ada.

    Pura ini mengisyaratkan kesiapan kita mengingat atau bersujud pada pura baik yang ada di Bhuana Alit maupun di Bhuana Agung. Semua orang telah ambil bagian dalam membuka pintu perwujudan penciptaan yang lebih agung. Semua kepercayaan dan perwujudannya adalah bagian dari kunci universal ini. Kunci ini adalah cinta kasih. Bila semua agama dan umat manusia bersatu dalam satu titik fokus guna menyalakan ungkapan mereka yang unik lewat Mudra dan Suara, daya mahkota dari Yang Esa akan bangkit.

    Merpati (cinta kasih) yang bersemayam di dalam diri kita semua akan mulai berkelana dari bintang di dalam inti bumi. Melewati jalanan sang Naga dan bumi ini akan mencuat menjadi sebuah bintang yang menyatukan sorga-sorga dan bertahta sebagai Kerajaan Tuhan.

    Oleh sebab itu, semua orang akan mendapat kesempatan. Mereka yang datang hanya perlu mengenali Tuhan yang bersemayam di dalam dirinya. Memilih untuk melangkah ke depan dan mengingat masa lalunya sebagai bagian dari intisari Tuhan sebagai pencipta yang Esa. Tiap orang akan memegang kode-kode istimewa yang diwujudkan dalam kepercayaan-kepercayaan mereka yang unik sebagai bagian dari rencana Sang Pencipta.

    Ini menjadi lambang dari lengkungan pelangi yang menyatu di atas maupun di bawah berlandaskan pemersatuan dua kutub yang berlawanan. Pura ini diciptakan untuk menjadi pintu masuk ke dalam mahkota yang hanya bisa dicapai dengan meniadakan waktu, ruang dan tidak mendua serta hati yang saling bertautan. *Ngurah Paramartha
    source: Balipost

Halaman 11 dari 13 PertamaPertama ... 910111213 TerakhirTerakhir

Thread lain yang mungkin anda sukai

  1. Candi Sukuh, Candi Paling Erotis di Indonesia
    Oleh roughtorer di forum Science & Philosophy
    Tanggapan: 9
    Post Terakhir: 08-06-2012, 08:23 PM
  2. Berita: Michael Jackson Dianggap Pura-pura Meninggal Saat Sekarat
    Oleh cotutgaulCoraSolar di forum Gossip, Berita & Politik
    Tanggapan: 4
    Post Terakhir: 05-07-2009, 01:10 AM
  3. Berita: Excit, Nge-Game Sambil Pura-Pura Kerja
    Oleh adit83 di forum Gossip, Berita & Politik
    Tanggapan: 2
    Post Terakhir: 18-06-2009, 03:44 PM
  4. Berita: Teoris Mumbai Pura-Pura Mati, Pengakuan Rahasianya Menggemparkan
    Oleh talam di forum Gossip, Berita & Politik
    Tanggapan: 3
    Post Terakhir: 07-12-2008, 06:32 PM
  5. Candi Sukuh, Candi Terakhir, Candi Paling Erotis
    Oleh roughtorer di forum Gallery
    Tanggapan: 25
    Post Terakhir: 28-11-2008, 03:23 PM

Ketentuan Posting

  • Anda tidak boleh membuat thread baru
  • Anda tidak boleh memberikan tanggapan
  • Anda tidak boleh memberikan sisipan file
  • Anda tidak boleh mengedit posting anda
  •  
IF Live Support:

ipv6 ready